Mulai Mengepak Sayapmu Cicem?

Mulai Mengepak Sayapmu Cicem?

By: T. Mohd. Sanir

06.30-07.30 (A.M)

Dari balik-balik kabut, menyeruak sebuah semangat yang tertancap di dada, menyala saat hari masih menggeliat malas. Masih pagi, tapi derap langkah optimis telah terbit di hati yang dituju. Akan lupakan sejenak hangatnya pembaringan, acuhkan udara dingin yang menyergap tubuh, mengejar pengalaman dan meninggalkan waktu bersantai-santai di hari libur. Bagi sebagian, mata masih sisakan perih karena kurang tidur, entah bagaimana nanti, kita tunggu saja.

Di mulai dari tragedi spirtus, beberapa kendala muncul, beberapa pelajaran tambahan didapat, dan setelah perjalanan berhenti di beberapa titik, akhirnya kami sampai ke tujuan dan ketinggalan seremonial pagi yang dikicaukan burung-burung. Perjalanan memakan waktu setengah jam, lalu bisa dipastikan jadwal pun bergeser. Tapi tempat ini masih indah seperti saat terakhir kami berkunjung, dan istimewanya hari ini kami bersama Rekan Cicem yang baru kepakkan sayap, yang katanya berani gila dan berani tantangan serta ingin meramaikan angkasa Aceh dengan keindahan.

08.00-09.00 (A.M)

Matahari mulai menghangat, sinarnya yang malu-malu muncul dari sela-sela rerimbun dedaun. Di sebuah tempat, kawasan Karst, sepuluh orang anak manusia memulai kedatangannya dengan seutas harapan yang membumbung bersama embun pagi yang menguap. Tanah becek masih sisakan hujan semalam, membentuk kolam-kolam kecil kopi susu. Air telaga berwarna hijau, terlihat kompak dengan gugusan hutan hijau keemasan tertimpa cahaya mentari. Sejuk, damai dan sangat tenang.

changeable-hawk-eagle-03.jpg

Dari sini, di mulailah cerita pengenalan alat, baik monokuler ataupun binokuler, pembagian buku panduan pengamatan serta pengenalan medan, lalu siap-siap beraksi. Sambutan pertama datang dari Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) yang berdiri gagah pada dahan sebatang pohon. Sepertinya burung ini sengaja pamer, soalnya baru saja penjelasan tentang penggunaan alat-alat pemantauan burung selesai diberikan, tanpa diminta Ia langsung menawarkan diri sebagai objek peraga. Terus tanpa menunggu waktu lama langsung saja binokuler membidik sasaran, tripod tergelar dan monokuler di pajang, tak ada kesempatan yang terlewat. Nah, kebetulan Elang Brontok yang kami jumpai pada kesempatan ini adalah sedang dalam fase morfologi terang.

09.00-12.00 (A.M)

Hutan terus memanggil serta menarik kami kedalam, sibak belukar dan ranting yang menghalang. Dan suara burung-burung adalah penuntun jalan, Aku tidak mengatakan ini sebagai sesuatu yang buruk, karena yang kurasa kelihatannya cuma ingin menguji nyali kami. Burung-burung yang ditemukan dicatat; baik itu nama, waktu, tempat ditemukan dan tingkah laku. Tetapi, lama-kelamaan gurat-gurat tanda tanya mulai muncul di kening kepala. Adakah ini pertanda ketidak-mengertian. Benarkah seperti ini rasanya? Apakah serumit ini caranya? Iya, tapi hey, nikmati saja saat-saat seperti ini, kesempatan begini tak datang sering-sering. Benar ini melelahkan, tapi senyum masih terlihat di wajah rekan cicem meskipun samar. Total kurang lebih tiga jam bermain didalam hutan yang lebat. Kadang mesti menembus semak belukar berduri, kadang mesti masuk kedalam rawa-rawa berwarna teh, untung ada yang mengingatkan jangan diminum, kalo nggak, wah segar nih…! Lengkap, seru, berkeringat dan gatal.

Perjalanan menyusuri sungai adalah perjalanan terpanjang, karena sungai ini bercabang-cabang. Beberapa ekor Cekakak terlihat mondar-mandir, memanggil-manggil temannya. Sepertinya dari jenis Cekakak Sungai (Halcyon cloris), dan Cekakak Cina (Halcyon pileata) sementara si Elang Brontok sedang asyik ber-thermal soaring, tuh di atas sana, sesekali suaranya kelihatan menyayat angkasa, perih! Terus kami berjalan sampai tembus ke sebuah Desa, dan masyarakat di situ menatap heran saat kami melintas, kami tetap tersenyum sebisa mungkin walau bino dan mono kelihatan menyolok. Sempat juga bercakap-cakap dengan salah seorang penduduk setempat meski sebentar.

12.30 -03.15 (P.M)

Seksama kami mendengarkan ada yang berdendang, bukan di hutan, bukan di angkasa, sepertinya ini berasal dari dalam perut kami. Dendang irama keroncongan, sudah waktunya makan siang, dan saatnya kami kembali. Perjalanan pulang adalah khayalan dan angan-angan, ingin sampai sesegera mungkin dan langsung menyantap makanan yang ada. Terus, ada yang kepikiran masak nggak? Apa yang diharapkan benar-benar terjadi, kami lapar dan harus masak. Ada yang mau nasi kaleng? Kalau tidak ambil mie instan saja.

Makan siang dan diskusi di sertai dengan obrolan ringan dan di selingi oleh canda tawa, benar-benar kesan indah penuh keakraban yang terjalin. Semua senang dan gembira, itu yang nampak di luarnya, dalamnya hati siapa lah tahu, tapi semoga saja tidak demikian ya? Selanjutnya pemberian materi navigasi dan manajemen kemping. Untuk seorang Birdwatcher hal ini penting, karena tanpa mengetahui dasar navigasi dan manajemen kemping yang baik, bisa di pastikan pengamatan yang dilakukan tidak optimal hingga dapat menimbulkan masalah dan kendala yang serius.

dsc03497.jpg

03.30-06.00 (P.M)

Waktunya memeriksa paspor burung migran, mana tahu ada yang izin tinggalnya udah habis dan harus segera di deportasi. Setelah mengemasi barang-barang dan peralatan, kami bergegas meninggalkan lokasi ini. Perjalanan selama lima belas menit lalu sampailah kami pada sebuah kawasan pantai. Laut di arah depan, dan areal pertambakan di bagian belakang, dengan jalan yang melintas di tengah-tengahnya. Kami beruntung karena saat itu sedang pasang surut, jadi kemungkinan adanya burung-burung pantai besar sekali. Tiap-tiap pasang mata Rekan Cicem tampak antusias menjelajahi tiap tempat, dan pucuk dicinta ulam pun tiba!

rame.jpg

Cerek Pasir Mongolia (Charadrius mongolus), Cerek Pasir Besar (Charadrius leschenaultii), Trinil Pantai (Tringa hipoleucus), Cekakak Sungai (Halcyon cloris), Kuntul Karang (Egretta sacra), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) teramati. Untuk jenis mongolian plover sudah ada yang memperlihatkan karakter warna bulu breeding. Memang sudah masuk musim berbiak, tetapi mangapa masih berada disini? Satu pertanyaan menarik, lebih menarik lagi jika mereka berbiak di sini.

cerek-pasir-mongoliacerek-pasir-besar.jpg

06.15 (P.M)

Langit di barat mulai memerah, laut masih menggulung ombak. Ini tempat yang sama seperti pada liputan kami tentang Kuntul Karang (baca liputan lengkapnya di Gelombang Yang Berbisik Pada Karang). Tetapi karena kami memang berencana melakukan pengamatan burung pantai, maka tempat ini kami masukkan sebagai daftar tempat yang wajib untuk dikunjungi.

Kami telah merasakan momen yang luar biasa hari ini. Kenangan-kenangan ini akan mengendap di kepala untuk waktu yang lama. Semua kesenangan, tantangan, bahkan keringat yang keluar adalah lukisan jiwa yang bahkan Da vinci pun sulit untuk melukisnya. Setelah satu jam disini, kami bergerak lagi. Tetapi kali ini adalah bergerak pulang ke kediaman masing-masing. Bersama letih, penat, gembira, dan pengalaman indah yang akan kami bawa menjemput mimpi nanti malam. Selamat bermimpi indah, esok hari kita ulangi lagi perjalanan seperti ini.

Iklan

12 thoughts on “Mulai Mengepak Sayapmu Cicem?

  1. Aku sebenarnya senang dengan kegiatan seperti yang rekan cicem lakukan, tapi aku cuma ga bisa capek.
    pengen neh ikut kegiatan macam ini…..

  2. ya, seperti yang udah-udah, ntah mengapa hari-hari makin membosankan.
    sepertiny ga bergairah menjalani hidup.
    apa sih yang kurang?
    mungkin ada seseorang disana yang bisa menjawab risau hatiku…
    sorry ga nyambung!

  3. hehehe…, tau aja kalo aku cantik
    btw thanks ya atas komenya!
    so, sekarang giliran aku ya?
    ya, udah, aku cukup bilang bagus, great, nice, fantastic, amazing, awesome, etc…..!
    hehehe…, kena deh bg sanir dikerjain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s