Risalah Angin Semilir

Risalah Angin Semilir

Oleh: T. Mohd. Sanir

Angin berhembus, pada gesek ilalang dan dedaun yang bergoyang dalam iringan khidmat. Datang dari timur, titipkan pesan semerbak bunga yang mekar di musim semi. Tapi angin datang tak tentu, kadang pelan menghanyutkan, kadang kencang menghempas, sesekali diam tak beranjak. Seperti kehidupan ini jua, bosan sering hinggap saat pikiran buntu, semangat muncul kala embun pagi menggeliat. Kurasa hidup ini indah, sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja.

Pucuk-pucuk nyiur hijau melambai pelan saat kami kembali menekuri jalanan. Sebelumnya, rekan Cicem sempat bosan dan terpekur karena tidak ada bola lampu yang menyala di kepala. Sekitar sepuluh menit perjalanan, seorang rekan Cicem berteriak-teriak sambil mengacungkan telunjuknya ke angkasa. Dua ekor raptor yang diduga Elang Alap terbang berputar. Kami mencoba melihat lebih dekat dengan binokuler, sayang si raptor keburu pergi. Yang tampak hanya sekilas siluet hitam yang menjauh dan menghilang di udara biru bercampur putih. Kami bergerak lagi, mendekati ke arah terbangnya si raptor. Tak ada yang terlihat, lima menit kemudian kami berhenti untuk mendengarkan lantunan tembang syair burung yang bersahutan. “Cucak Kutilang” (Pycnonotus aurigaster) sedang bertengger berpasangan di atas sebuah pohon.

cucak-kutilang.jpg
(gambar Cucak Kutilang)

Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat dan jika memungkinkan cukup hanya mengambil gambar doang. Itu saja. Tetapi, siapa sih yang tidak risih jika saat-saat bercumbunya menjadi tontonan pihak lain. Terlebih untuk orang yang suka nenteng-nenteng kamera dengan senyum-senyum simpul. Belum selesai monokuler terpasang, belum sempurna senyum terkembang, eh.., yang seekor udah ngacir duluan dan hilang di dalam semak. Untuk satu yang tertinggal, jangan tanya deh gimana paniknya sang fotografer. “Jepret-jepret-jepret…!” Bahkan nyaris kesurupan bagaikan seorang prajurit yang membabi-buta memuntahkan pelurunya di tengah kepungan musuh. Oh, walah….! Tapi tenang saja, si fotografer dapat kok foto berpasangannya dalam kesempatan lain. Setelah cukup lama menekuni si Cucak Kutilang, di langit puluhan burung-burung kecil tampak terbang bergerombol. Diantara yang terbang tersebut beberapa di antaranya ada yang membawa sejenis rerumputan di paruhnya. Apakah untuk sarang?

baya-weaver-nest.jpg

(gambar pohon kelapa sarang Manyar Tempua)

“Ada yang aneh dari pohon kelapa itu!” Seru salah seorang rekan Cicem. Dari kejauhan terlihat bagai buah kelapa yang tergantung pada pelepah daun. Terhitung lebih dari 30 sarang manyar yang terdapat pada satu pohon. Sarang yang indah, bagi mereka burung-burung “Manyar Tempua” (Ploceus philippinus >› Baya Weaver) yang hidup berkoloni dan bekerja sama dalam membangun sarang. Di Aceh burung ini dikenal dengan nama Mirik. Mereka tak berhenti berkicau dengan suara “cicit-cicit” yang cepat. Sarangnya seperti kue karah (penganan khas Aceh) untuk yang sudah tua dan berwarna coklat. Tersusun atas anyaman rumput-rumputan dan ilalang, dengan dua helai daun kelapa sebagai pondasinya, tetapi hal ini lebih jelas terlihat pada sarang yang muda dan masih berwarna hijau. Sebentar-sebentar terbang, lalu kembali dengan rerumputan di paruhnya. Belum selesai sarang yang satu, eh.., sudah mengerjakan sarang yang lain. Lalu beradu argumen, hingga saling pukul karena rebutan sarang. Ada-ada saja, untung saja tidak seperti dalam aksi Hollywood yang menggunakan senjata api dan bahan peledak. Kalau sampai terjadi, wah.., seru!

baya-weaver.jpg

(gambar Manyar Tempua)

Kami bersyukur atas kesempatan ini, melihat burung-burung bercengkrama di alam bebas. Tanpa sangkar, tanpa belenggu. Tapi, masihkah ada kesempatan bagi anak-cucu kita merasakan hal yang sama? Terlebih maraknya perburuan dan penangkapan burung untuk kesenangan semu makin marak. Semoga saja masih tersisa orang-orang yang peduli di luar sana, karena punahnya satu satwa bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Kita bersama yang melakukan, kita bersama yang bertanggung-jawab atas dampak perubahan lingkungan.

Cuaca cepat berubah, seperti suasana hatiku, maka langit perlahan telah di penuhi awan kelabu. Hujan berkabut datang dari selatan, waktu merangkak, dingin merangsek menyergap jiwa. Terkurung dalam bangunan ruang, yang diam tak bercerita. Lalu mengapunglah romantisme kerinduan tentang rumah berirama sendu. Kami ingin pulang! Tak peduli meskipun hujan membasahi tubuh dan hati kami. Sejenak sebelum melangkahkan kaki menjemput hujan, terasa semilir angin mengelus wajah kami. Sejuk dan kaku…! Dengar dan diam saja. Biarkan risalah angin semilir datang dan berlalu. Ambil yang kau perlu, tinggalkan yang tak berguna.

Iklan

16 thoughts on “Risalah Angin Semilir

  1. oke, aku udah liar en baca. kayaknya bagus en fokus ke masalah burung. terus kalo masalah burung yang dipelihara ma masyarakat di ulas juga donk. trims…

  2. bah, keren banget bro. aku sangat tertarik tentang kue karah yang kamu ceritain. soalnya aku blom pernah makan dan emang dasarnya aku hobi makan. hehehe

  3. Maaf sebelumnya, tapi saya sangat berkeinginan untuk sedikit ngomong disini. Sekali lagi maaf! Sungguh saya tertarik membaca tulisan Anda, kayaknya gabungan antara petualang dan seniman, jujur gaya bahasanya aneh bin nyeleneh, tapi it’s oke karena buat saya ini luar biasa. Lalu, Cicem disini terus ngomongin burung ya? Bagus, kalo bisa mempertahankan idealismenya. Tapi jujur kalo zaman sekarang susah untuk tetap konsisten kalo ngomongin duit, cuma kalo kalian terus berkembang dan bersabar, gak usah dicari mas. Pasti dia datang sendiri. Tambahan, ini buat bung Sanir, kayaknya kamu tipe cowok yang romantis ya? Hehehehe…. Sudah punya pacar? Pasti beruntung tuh cewe tiap hari di buatin kata-kata yang indah. Sayangnya gw cowok Bung!!! Kalo gak, ah gak tau deh…..

  4. lho sudah tulisan baru kenapa gak ada kabar????? untung saya jalan2 kemari kalo ndak yang kelewatan deh. aspek ilmiah_a lebih di tonjolin bisa nggak. misal behaviournya. jangan lupa kalo sudah ada peta_a kasi tau ya. selamat berkreasi kawan. sukses selalu. jangan segan-segan untuk minta tolong. oke.

  5. Niat dari rumah ke warnet mo cari bahan tuk laporan praktikum, dasar “CICEM NANGGROE” punya daya magnet yang begitu kuat hingga daku tersedot tak sadarkan diri meluncur bebas gak pake rem hingga jatuh kemari…hikk..hikk..hik…Tapi aku cukup menikmatinya, “CICEM NANGGROE” emank cihuii, artikelnya ilmiah n’ kocak, mas Sanir menyajikan dengan apik.
    Oya…salut juga dengan fotografernya (mas Agus Nurza) gile bener perjuangannya, denger2 ampe nyaris kesurupan, untung aja gak, klo iya au aah…gelap…:-) anda mengabadikan moment yang begitu romantis, sebuah suguhan yang menakjubkan…
    sukses slalu buat “CICEM NANGGROE” teruslah berkarya….

    Salam
    ( Mirik Nanggroe)

  6. Ijin dulu nich ma admin “CICEM NANGGROE” mo nyapa D’Jon yg dari Sibreh, boleh ya…:-) Aah jadi malu…
    @Mas D’Jon, kayaknya anda cukup menguasai kawasan Sibreh, apakah di Sibreh juga ada umpung Badeuk, kalo ada kebetulan kawan saya miss Clara Anderson dari Oxford University. UK yang sedang meneliti tentang “Badeuk’ butuh jasa seorang guide diSibreh (tepatnya di kaki gunung Bukit Barisan). Sepertinya anda orang yang tepat untuk kami ajak bekerja sama. Kalau anda bersedia (terlepas ada Badeuk atau tidak) kami mengundang anda ke Hotel Hermes Palace, room 169 untuk mempelajari job description & menandatangani kontrak kerja sama.
    Harap buat janji dulu… Berikut CPnya miss Clara Anderson: 081360412066
    Sekali lagi terima kasih banyak buat admin “CICEM NANGGROE”

  7. Waduh Pak Mirik Nanggroe, jangan sibuk ngenet doang….. cari dong bahan laporan ko-as nya dulu…. biar bisa cepat ujian nya… ya nggak Mas Agus.

    Cheers,
    Semperfi

  8. Terimakasih untuk semuanya…..!
    Spesial Buat bung Farrel, bang Bats, Waheed dan new comer dek jon….! Selamat datang di blog burungnya Aneuk Nanggroe!
    Senang mendengar masukan dari rekan2 sekalian, terus terang kami masih belajar dan sangat mengharapkan sekali bantuannya. Cicem disini emang cuma ngomongin burung en pernak-perniknya, kami mencoba untuk fokus dan konsisten, doakan semoga selalu begitu. Bulan ini adalah bulan yang padat, memang dalam hal penulisan kurang, tapi jangan tanya kegiatan di luarnya. Wah.., padat dan berkeringat. Sayang sekali bung Waheed tidak ikut pengamatan bersama minggu lalu. Dan untuk dek Jon, mungkin nanti jika ada kesempatan kami ke Sibreh, tentu kami sangat senang seandainya anda ikut serta bersama kami.

    salam,
    Rekan Cicem

  9. Alam memberi gambaran akan filosofi makna hidup…kehidupan alam bisa menjadi risalah. Teman-teman cicem yang saya banggakan terus jalanmu, lintasilah yang menjadi pilihan, raih angganmu…..kalau itu berarti. sebarkan risalahmu………anak cicem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s