Langit Kelabu di Ujung Matamu

(T. Mohd. Sanir)

Dalam beberapa hari belakangan ini, matahari sedang garang-garangnya bersinar di Banda Aceh. Hal ini sangat kontras dibandingkan dengan beberapa tempat lain di tanah air yang sering hujan. Indikasi pemanasan global yang mempengaruhi musim? Mungkin saja, tetapi kegiatan mendongakkan wajah ke langit belum berhenti, bukannya memperhatikan gugusan awan dan mengharapkan hujan datang, tetapi lebih sering memperhatikan burung yang sedang melintas. Seperti pada satu sore yang berawan (kupikir hujan akan datang), tampak burung layang-layang terbang di angkasa. Cukup menarik dan penuh aksi akrobatik, sungguh mereka membuatku iri. Andai manusia dapat terbang, mungkin saja ketergantungan akan bahan bakar akan sedikit berkurang. Tetapi kehidupan sudah seperti itu adanya, semua memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Bukankah sudah jelas bahwa manusialah yang menciptakan kerusakan di muka bumi. Bukan saatnya untuk bersedih atau  menyesali diri, lebih baik berbuat sesuatu dan memperbaiki apa yang salah.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-05.jpg

Gambar 1. Raptor jenis Elang Kelabu (Butastur indicus)

  Saat sedang asyik melihat burung layang-layang, plus imaji-imaji kecil yang menari di relung kepala, nun diseberang sana, di atas dahan pohon kelapa terlihat seekor burung elang. Dari hasil identifikasi bareng rekan Cicem Nanggroe, sepertinya ia adalah burung pemangsa jenis Elang Kelabu (Butastur indicus). Hanya seekor, tetapi matanya awas melihat kekiri-kanan mencari mangsa. Tidak Cuma mengamati keadaan disekitarnya, tetapi juga mengamati kami, seolah ia tahu kalau sedang di pantau. Untung saja ia tak merasa jengkel hingga akhirnya terbang, atau lebih parah lagi sampai melapor ke KOMNAS-HAM karena telah mengganggu privatisasinya. Elang kelabu atau inggrisnya Grey-faced Buzzard adalah elang yang berukuran sedang, kurang lebih 45 cm, berwarna kecoklatan dengan warna strip putih yang jelas di bagian alis, paruh berwarna hitam dengan sere kuning, iris mata kuning terang, garis hitam vertikal di daerah tengah kerongkongan, dada dengan garis coklat kemerahan dan putih sampai ke bagian bawah, punggung kecoklatan dan di bagian ekor terdapat strip hitam dan putih. Penyebaran globalnya berbiak di Asia timur laut, pada musim dingin ke selatan sampai Asia tenggara. Sedangkan penyebaran lokalnya, termasuk pengunjung musim dingin atau pengembara di daerah Sunda besar, Kalimantan bagian utara dan Sumatra (MacKinnon dkk., 1995).

 Elang kelabu merupakan jenis burung pemangsa atau raptor, di alam jenis-jenis raptor adalah indikator bagi keseimbangan alam. Sebagai pemangsa puncak pada piramida makanan, adanya raptor tentu saja menunjukkan keadaan lingkungan yang baik dan stabil. Terlebih lagi Elang kelabu termasuk jenis raptor migran atau pengembara, tentu saja ia tidak sembarangan memilih tempat menetap sementara seandainya di tempat tersebut tidak menyediakan makanan yang cukup dan keadaan alam yang mendukung untuk hidup. Bukankah tujuannya melakukuan migran adalah sebuah pilihan untuk bertahan hidup. Yah, walaupun masuknya secara diam-diam dan tak melapor ke kantor urusan imigrasi, tetapi fenomena burung raptor migran sungguh menarik untuk di amati dan di bahas. Sejak kapan ia datang dan sampai kapan visa menetapnya akan berakhir merupakan hal yang tak dapat di pisahkan dari pengaruh musim. Selama tujuannya datang kemari untuk maksud yang baik, apa salahnya jika kita menjadi tuan rumah yang santun. Tidak mengganggu, tidak menembak, tidak menjerat, atau mempersulit izin tinggal sementaranya di Nanggroe Aceh Darussalam. Jika hal ini bisa tercapai setidaknya kita harapkan dapat menjadi promosi gratis sampai ke luar negeri bahwa Aceh merupakan negeri yang mempesona dan mengangumkan, plus bonus banyak kadal dan tikus beraroma tropis di sini. Ibaratnya terpuaskan lewat mata (wisata panorama) dan terpuaskan lewat lidah (wisata kuliner), tapi promo ini khusus raptor saja lho.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-04.jpg

Gambar 2. Elang Kelabu sedang bertengger di pohon kelapa

Tetapi sore itu bukanlah pertemuan kami yang terakhir, beberapa hari setelahnya kami berjumpa kembali, walau bukan di tempat yang sama dan dalam gelombang yang serupa. Kali ini dengan efek yang lebih menarik dan dramatis. Pada jarak sekitar 15 meter, si elang kelabu yang bertengger di sebatang pohon mati sedang mencengkram seekor tikus dengan kakinya, lalu sejurus kemudian mencabik dan mulai menyantap daging tikus dengan lahapnya. Aku dan dua orang rekan Cicem Nanggroe mencoba mendekat, hanya beberapa detik untuk kemudian raptor ini terbang ke pohon kelapa dengan jarak yang sudah tidak optimal lagi bagi binokuler. Sayang memang momen ini tidak sempat terekam. Tapi ya sudahlah tak mengapa,mungkin saja ia tipe raptor yang tak nyaman di perhatikan saat sedang makan. Bukankah tiap makhluk memiliki karakteristik yang berbeda-beda? Alangkah menjemukannya hidup seandainya semua makhluk sama dan setipe, ada yang mengatakan bahwa perbedaan itu indah dan menerima dan menyatukan perbedaan adalah hal yang paling indah. Aku dan rekan Cicem Nanggroe pun berlalu dari tempat tersebut, sebenarnya hari itu kami bukan dalam tugas pemantauan, tetapi tetap saja jika ada burung dari jenis apapun dan kelihatan menarik untuk dibahas dan berbagi informasi, sungguh kami takkan sungkan mengenyampingkan urusan lain. Mungkin saja ini hobby, mungkin juga semacam panggilan jiwa, tapi jelas lebih baik dari pada kami diam dan tak berbuat sesuatu apapun untuk hal yang kami senangi. Banyak yang sayang sama burung, banyak yang mengaku-ngaku cinta sama burung, tetapi apakah cinta yang dimaksud adalah dengan cara menempatkan burung di dalam sangkar? Aku rasa hal ini adalah buah dari keegoisan manusia itu sendiri, bukankah cinta yang seutuhnya itu adalah cinta yang berasal dari kedua belah pihak? Tak ada unsur paksaan, bukan untuk di eksploitasi, juga bukan untuk selalu di pingit. Emang ini zaman Siti Nurbaya?

 Lama aku tak melihat lagi si Elang Kelabu, hingga pada hari minggu ke tiga di bulan Februari ini, di sebatang pohon kelapa, persis hampir serupa seperti saat pertemuan pertama kami. Tampak ia bertengger di dahan dan menatap ke arahku, tetapi tidak melirik ke kanan-kiri. Tidak awas, tidak waspada. Sepertinya ini titik-titik terrapuh dalam hidupnya, apakah karena cinta kami yang harus segera berakhir karena ia mesti kembali ke tanah kelahirannya? Aku tidak berani mengiyakan, tidak juga berani menggelengkan kepala. Tetapi sore itu aku melihat langit kelabu di ujung matanya. Perjalanan jauh menanti, bekal makanan yang memadai, istirahat yang cukup dan selamat jalan, sampai bertemu kembali jika ada umur panjang.

Iklan

18 thoughts on “Langit Kelabu di Ujung Matamu

  1. sangat menarik melihat si kelabu berada di aceh.
    besok2 diliat juga donk kapan dia datang dan kapan dia pergi.
    ya, tanggal pastinya gitu….

  2. sebenarnya aku kurang tertarik sama burung yang ini, tapi kalo yang satu lagi seh aku doyan. hehehe….
    bercanda doank, biar ga stress bro…….

  3. Asik bener blog yang satu ini, gue suka ma artikel2nya salah satunya yang ini (Langit Kelabu di Ujung Matamu by: mas T. Mohd Sanir) perpaduan ilmu pengetahuan, tulisan ilmiah, sastrawi n’ sedikit bumbu novelis:-) gak tau lah apa namanya, yang jelas keren palagi bagian “Mungkin saja ini hobi, mungkin juga semacam panggilan jiwa”… GILA… dalam bener kata2nya bro…siiip dech. Salam buat kawan2 di Cicem Nanggroe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s