ELANG BONDOL MENUNTUT ILMU DI JANTOENG HATEE RAKYAT ACEH

Oleh : Husnu Rijal

(http://bwsnour.co.cc)

 

Elang bondol (Haliastur Indus) merupakan salah satu jenis burung pemangsa (Raptor) yang sangat gagah, sering mengunjungi daerah rawa, sungai, muara, pesisir pantai dan kepulauan hingga daerah dengan ketinggian sampai 2800-3000 mdpl. Di Jakarta, elang ini ditetapkan menjadi maskot ibukota sejak tahun 1989. Umumnya burung ini terdapat di Sumatera, Kalimantan. Pada daerah Jawa & Bali  saat ini sudah jarang ditemukan. Di Jakarta, terdapat di Cagar Alam Pulau Rambut, diperkirakan tinggal 10 ekor (http://www.iwf.or.id/elangbondol.html).  Meski bukan burung migran antar benua, penyebaran elang bondol juga ditemukan di India, Cina Selatan, Filipina, Australia dan juga di beberapa negara lainnya.

Elang bondol berukuran panjang sekitar 45-52 cm, dengan lebar sayap 110-125 cm, panjang ekor 18-22 cm. Elang bondol memiliki warna putih dengan coretan hitam vertikal dari kepala, leher sampai perut dan coklat kepirangan pada bagian atas sayap sampai ekor. Perbedaan antara burung muda dengan dewasa adalah ujung ekornya bundar bukan menggarpu. Iris coklat, paruh-sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram. Pekikannya mengelih dan mengeong-ngeong “syii-ii-ii” atau “kwiiaa”.

 

elang-bondol-03.jpg

  Gambar 1 : Elang Bondol yang sedang bertengger di pohon cemara laut (Photo: Agus Nurza)

 

 

Elang bondol  memiliki kebiasaan terbang melayang-layang sambil mengintai mangsanya dari atas dan jika mangsanya sudah terlihat maka elang bondol akan langsung terbang menukik untuk menangkap mangsanya. Selama musim kawin (November-Desember), elang bondol sering melakukan akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangan baik di dekat pasangannya maupun di dekat sarangnya (http://www.naturia.per.sg/buloh/birds/Haliastur_indus.htm). Elang bondol memanfaatkan pohon-pohon besar dan tinggi untuk membangun sarang dan menggunakan ranting-ranting pohon yang disusun rapi. Elang bondol bertelur 2-3 butir telur (http://wongsuro.multiply.com/journal/item/2).  Beberapa diantaranya memanfaatkan pohon yang sudah mati (barang kali pohon itu masih hidup ketika pertama kali raptor tersebut membangun sarang).

Di Nanggroe Aceh Darussalam elang bondol selama ini terlihat di Kampus Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh pada saat pengamatan raptor yang dilakukan oleh Pengamat Burung Aceh “Cicem Nanggroe” pada bulan Januari 2008, sepasang Elang bondol terlihat sedang bersarang di pohon cemara laut (Casuarina equisetipholia) pada ketinggian ± 35 m dari tanah. Di Singapura, raptor tersebut juga pernah diamati membangun sarang pada pohon cemara laut, sarang jantan dengan betina dibangun terpisah pada pohon lain pada jarak 100 m. Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat burung Aceh “Cicem Nanggroe” hanya terbatas pada pagi hari, hal ini untuk menghindari perhatian orang-orang yang ingin memburu atau menangkap raptor tersebut.

Sebenarnya, pemantauan raptor jenis bondol ini relatif mudah yaitu dengan mengunjungi lokasi-lokasi yang telah direkomendasikan seperti cagar alam, taman nasional, dan masih banyak lagi, kemudian mencatat hasil dari pemantauan tersebut melingkupi jumlah individu atau jumlah raptor tersebut dan jenisnya serta tingkah laku raptor tersebut. Akan tetapi, bagi pemula hal ini sulit dilakukan khususnya cara-cara identifikasi dan menghitung jumlah raptor.

 elang-bondol.jpg
Gambar 2 : Elang Bondol yang sedang membangun sarang (Photo: Agus Nurza)

Pengamatan raptor memiliki keunikan tersendiri dan bisa digolongkan dalam kategori sulit. Kesulitan tersebut pertama disebabkan oleh jarak pemantau dengan raptor umumnya jauh (150 meter sampai 1 km). Kedua, hampir seluruh jenis raptor memiliki warna yang sangat monoton yaitu hitam, putih dan kelabu atau coklat. Jadi, membedakan diantara seluruh jenis raptor hanya corak dari perbedaan letak warna tersebut, atau perbedaan totol dan garis-garis pada seluruh anggota badan raptor tersebut. Dan hal yang paling sulit lagi yaitu pada saat terbang, dimana hampir seluruh tubuhnya bernuansa hitam dan putih (kalau menentang matahari, hanya bernuansa silau atau hitam saja). Cara membedakannya hanya berupa bentuk keseluruhan tubuh raptor tersebut dan melihat ciri khas dari bentuk raptor tersebut misalnya ciri khas ekor, cara terbang, panjang leher dan proporsi anggota badan. Cara ini biasanya dilakukan oleh pemantau-pemantau yang telah berpengalaman.

Bagi beberapa pengamat burung, efektivitas waktu pengamatan raptor kadang-kadang tidak tentu, akan tetapi pengamat burung Cicem Nanggroe untuk melakukan pengamatan raptor lebih memilih pada waktu pagi hari sampai siang hari (hal ini untuk menghindari perhatian dari para pemburu/birdhunter). Penentuan waktu ini berdasarkan pengalaman pemantauan saja. Alat-alat yang perlu disiapkan termasuk monokuler dengan bantuan tripod, binokuler, buku panduan lapangan dan buku catatan.


 

Iklan

12 thoughts on “ELANG BONDOL MENUNTUT ILMU DI JANTOENG HATEE RAKYAT ACEH

  1. saya sering melihat elang bondol terbang rendah melintas di atas bank BNI di sepanjang jalan tgk syech abdurrauf (kampus unsyiah)sekitar jam 8 pagi sambil mengepakkan sayap(tidak soaring. terima kasih atas info sarang di pohon cemara laut.
    sekedar tambahan info , beberapa peneliti memang pernah menyatakan ada elang bondol di pulau rambut. tapi pada saat saya penelitian 2002-2003 tidak ditemukan elang bondol di pulau rambut.

    aida fithri
    biologi FMIPA Unsyiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s