PEMANGSA DISEKITAR KITA

Oleh : Ricko Laino Jaya

(Cicem Nanggroe)

Elang merupakan salah satu jenis burung yang dikenal sebagai pemangsa, layaknya harimau di darat, elang disebut sebagai raja angkasa. Elang dalam hidupnya terbiasa menyendiri untuk memudahkan berburu secara diam-diam, kecuali pada musim kawin.

Sebenarnya ketertarikan manusia pada elang sudah dari jaman dulu, contohnya pemimpin suku-suku di Indian memakai bulu elang sebagai aksesoris dari lambang kebesaran. Bahkan pada beberapa negara, elang dipakai sebagai simbol atau lambang dari negara tersebut. Indonesia sendiri menggunakan burung mitos Garuda yang merupakan nenek moyangnya Elang Jawa (Javan Hawk Eagle-Spizaetus bartelsi) sebagai lambang negara. Sampai sekarang elang terus dipelajari keunikkannya oleh ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu dan beberapa dari keunikkan raja angkasa ini diadaptasi dalam teknologi manusia.

Salah satu kelebihan dari elang adalah kemampuan manuvernya yang luar biasa. Mungkin kita pernah melihat elang terbang berputar-putar ditempat, dan kita berpikir bahwa ia sedang mengintai mangsa. Sebenarnya hal ini dilakukan selain mencari ketinggian optimal sebelum menerkam mangsa atau juga sedang menghemat tenaga untuk terbang dengan memanfaatkan gelombang panas bumi dan saluran udara yang tercipta.

Untuk lebih mengenal elang, selain membaca dari buku-buku, juga bisa dilakukan dengan cara pengamatan langsung (birdwatching). Kegiatan mengamati burung seperti elang adalah kegiatan yang mengasyikkan. Mulai dari cara terbangnya yang anggun, cara memangsanya yang cepat dan mematikan, hingga aktivitas bersarang dan berkembang biaknya. Terkadang kita bisa menemukan hal yang menarik dari pengamatan burung ini. Misalnya pengalaman kami yang dimulai sejak awal Januari sewaktu mengamati burung di daerah Darussalam. Selain menemukan Elang Bondol, kami juga menemukan salah satu jenis elang migran. Semula kami menduga ini adalah Elang Alap China (Accipiter soloensis). Untuk membantu identifikasi, kami mengirim photo burung tersebut ke sebuah forum pengamat burung di Indonesia.

upload.jpg

Menurut hasil identifikasi beberapa pengamat burung Indonesia, burung ini adalah jenis Shikra (Accipiter badius). Shikra berukuran 26-30 cm dan mempunyai sayap lebar dan pendek serta ekor yang panjang. Keduanya diadaptasi untuk manuver cepat sewaktu terbang didaerah dengan formasi semak dan hutan yang rapat. Shikra tersebar daerah selatan Asia dan sub-sahara Africa, tiap tahun membuat sarang pada pohon dan biasanya bertelur 3-7 butir tiap tahunnya. Shikra memang termasuk burung migrasi dan tidak mengherankan apabila Shikra terlihat di Aceh. Mungkin saja Aceh termasuk jalur migrasi burung tersebut. Tapi yang menarik adalah dalam beberapa hari pengamatan, kami menemukan bahwa beberapa pasang Shikra sedang membuat sarang pada pohon cemara. Sebelumnya belum terdapat catatan tentang burung Shikra yang berkembang biak di wilayah Aceh. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar karena pada umumnya burung migrasi hanya membuat sarang di daerah asalnya. Sarang ini dipersiapkan untuk mulai berkembang biak. Dan burung migran tercatat selalu berkembang biak di daerah asalnya. Ada apa dengan daerah asalnya? Dan kenapa Shikra berkembang biak di Aceh? Untuk menjawab pertanyaan ini, rasanya kami perlu melakukan pengamatan dan pemantauan lanjutan. Semoga saja apa yang kami perkirakan akan terjadi dan burung ini menjalani breeding di Aceh. Siapa tahu…?

Iklan

4 thoughts on “PEMANGSA DISEKITAR KITA

  1. Menarik nich…jadi penasaran dengan lanjutannya, apakah Shikra si pendatang akan diterima oleh Raja angkasa pribumi Aceh (Elang lokal), apakah akan terjadi kontra sesama Raja Angkasa dalam memperebutkan daerah kekuasaan atau malah sebaliknya akan hidup rukun dengan damai melaksanakan perannya masing2. Ditunggu lanjutannya…Thank infonya, sangat bermanfaat tuk menambah khasanah perburungan…Siiip dech:-)
    Sukses slalu

  2. saya merasa info yang diberikan jangan terlalu mendetil masalah sarang, karena kita Aceh masalah perlindungan burung liar masih kurang, sehingga dengan info yang anda berikan bisa menambah koleksi hiasan rumah para penduduk “bersenjata” di Aceh.
    tapi bagi aq sangat mantap “that”, ok selamat berjuang melalui konservasi_a………………………….

    • Dear Anggia…dari beberapa referensi, morfologi yang ditunjukkan oleh burung garuda sangat mirip dengan morfologi Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Terutama pada crest (jambul di kepala). Apalagi Elang Jawa merupakan spesies endemik yang hanya ada di pulau Jawa. Mungkin hal inilah yang menginspirasikan si pencipta lambang burung garuda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s