PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG

Oleh : Agus Nurza, T. Mohd Sanir, dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Sebelumnya perlu kami perjelas bahwa Pengembara disini bukan ditujukan kepada orang-orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan melintasi Aceh. Pengembara yang dimaksud adalah burung migran yang diketahui menempuh perjalanan ribuan mil setiap pergantian musim. Pernah terlihat di pantai Banda Aceh tetapi belum memberikan informasi yang cukup memadai. Terkadang keberadaan mereka tidak terpantau dan kurang mendapat perhatian seperti burung endemik yang terancam punah. Hal ini terjadi di pelbagai tempat di Indonesia, tetapi sejak kasus flu burung merebak, burung liar terutama jenis burung migran yang bebas keluar-masuk ke suatu wilayah tanpa harus menggunakan surat izin tertentu, memiliki peranan yang penting malah dianggap menjurus ke arah yang membahayakan.

Di dunia saat ini pemanasan global merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Faktanya, setiap tahun terjadi peningkatan suhu di seluruh dunia. Burung-burung migran termasuk jenis satwa yang sangat peka terhadap situasi ini, perubahan musim yang datang terlalu cepat mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Mereka dapat melakukan migrasi terlalu cepat atau bahkan terlalu lama tergantung perubahan musim yang akhir-akhir ini menjadi semakin tak menentu. Sebelumnya, Aceh belum diketahui termasuk ke dalam garis lintas migrasi burung-burung migran. Tetapi terjadinya perubahan keadaan dan lingkungan mungkin termasuk faktor yang menjadi pemicu terciptanya situasi ini.

Suatu pengamatan terhadap burung-burung air migran yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar telah dilakukan yang dimulai pada bulan September 2007 dan berakhir pada bulan November 2007. Wilayah yang diamati adalah wilayah tambak dan pesisir pantai yang secara umumnya merupakan areal pertambakan dan hutan pantai yang sedang dalam tahap pertumbuhan setelah hancur akibat bencana tsunami.

Burung air migran yang teramati di Banda Aceh dan Aceh Besar adalah burung Gajahan Besar (Numenius arquata), Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis), Biru Laut Ekor Blorok (Limosa lapponica), Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil (Tringa spp.), Kedidi Belang (Calidris alpina), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung Besar (Charadrius hiaticula), Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), dan Cerek (Charadrius spp.).

Burung air migran sering dijumpai di lokasi berbeda, diantaranya area pertambakan dan pesisir pantai di Desa Krueng Cut, Tibang, Jeulingke, Deah Glumpang, Neuheun, Lam Nga, Ujong Batee, Ladong, dan Krueng Raya dimana daerah ini merupakan bagian pesisir pantai utara Banda Aceh – Aceh Besar yang secara topografi wilayah-wilayah tersebut masih dalam satu garis pantai utara Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelum Tsunami terjadi kawasan pengamatan ini merupakan habitat burung air yang baik karena pada kawasan ini masih dijumpai komposisi vegetasi yang lengkap dan rapat, meskipun banyak lahan mangrove dialih-fungsikan untuk lahan tambak. Tambak yang dikelola secara perorangan cenderung menggunakan sistem tambak empang parit yakni hanya bagian pinggiran yang dimanfaatkan untuk budidaya dan dibagian tengah tetap ditempati manggrove. Cara yang demikian menguntungkan bagi kehidupan burung seperti yang pernah terlihat di daerah Jeulingke, Neuhun dan Ladong, terutama dalam pemantauan predator dan memudahkan burung dalam mengintai pakan. Meskipun kehidupan burung tidak terganggu secara ekologis tetapi burung-burung tersebut mengalami gangguan dari manusia.

Kawasan ini sedang dalam proses pemulihan. Memang sudah hampir semua daerah telah ditanami pepohonan mangrove, akan tetapi struktur ekosistem pantai belum pulih secara sempurna. Butuh waktu lama untuk mencapai kondisi yang ideal dan sesuai seperti dahulu. Sampai sekarang keadaan kawasan ini masih memprihatinkan. Berbagai ancaman saat ini mulai terlihat, seperti banyaknya sampah yang dibawa oleh aliran sungai di dekatnya. Sampah-sampah non-organik tentu saja membahayakan burung-burung tersebut. Keadaan ini diperparah dengan adanya aksi pengambilan dan perburuan terhadap sarang burung-burung. Padahal Burung air juga merupakan salah satu atribut kunci dari keanekaragaman pada kebanyakan lahan basah, dan komponen kuantitas dan kualitas dari burung air adalah landasan yang digunakan untuk identifikasi pentingnya lahan basah.

 
hunter1.jpg

Gambar 1. Pemburu burung air di kawasan Deah Glumpang Banda Aceh (foto : Agus Nurza)

 
Sang Pengembara dunia ini juga disambut hangat dengan peluru-peluru senapan. Saat pengamatan dilakukan tak jarang berbagai tempat pengamatan dijadikan sebagai tempat area perburuan. Prilaku pemburu juga berbeda-beda bahkan berburu burung dengan gaya bak ‘film action’. Seperti pada gambar di atas, pemburu sedang memburu burung air migran. Pada saat tertangkap kamera, mereka sedang menembak sekelompok burung jenis 
Gajahan Besar (Numenius arquata), dan  Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis) serta jenis Kokoan Laut dan Kuntul yang juga berada ditempat tersebut. Padahal di Indonesia semua jenis burung Gajahan dan kuntul dilindungi. Tapi sayang, status burung dilndungi cenderung banyak diketahui oleh praktisi bukan masyarakat luas. Fenomena seperti ini juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

 telur1.jpg

Gambar 2. Masyarakat sedang mengambil telur burung (foto : Agus Nurza)

 Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat, sebelum tsunami masyarakat setempat sering memanen telur burung pada waktu musim burung bertelur (Gambar 2.). Jumlah telur diambil dari sangkar kadang mencapai satu karung ukuran besar bahkan lebih. Pengambilan telur seperti itu jelas akan berpengaruh pada kelangsungan hidup mereka. Selain itu proses perburuan dengan menggunakan senjata seperti senapan angin kerap dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang perlu diwaspadai karena berbagaii jenis burung atau telur yang diambil dapat saja berstatus dilindungi dan mungkin beberapa diantaranya terancam punah.

Burung merupakan satwa yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kelestarian burung di alam merupakan salah satu kunci kelestarian alam. Dengan menjaga lingkungan, tentu saja melestarikan alam yang juga sebagai sumber daya alam yang baik sebagai tempat bergantung hidup bagi penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani ikan dan nelayan.

Pengembara ibarat tamu, seharusnya kita dapat menjamu mereka dengan baik dan ramah. Setidaknya tidak mengusik keberadaannya atau merusak habitat alaminya. Walaupun ia adalah burung, tetapi jika kehidupannya terganggu tentu akan menyebabkan ancaman akan keberadaannya lalu skenario terburuk adalah terjadinya kepunahan. Bukankah putusnya satu mata rantai kehidupan akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri?. Hal seperti inilah yang seharusnya perlu kita renungkan dan kita resapi, bukan semata untuk kehidupan kita saat ini tetapi juga sebagai warisan kepada anak cucu kita kelak.

 

Iklan

6 thoughts on “PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG

  1. Salah satu upaya kita praktisi yang mengetahui status burung yang dilindungi adalah dengan ini ijin memforward artikel ini demi kepentingan khalayak ramai.

  2. ARRGGH!!! why didn’t any one of u just put another gun on those people’s faces????????
    i hate these peoples.. those birds are so super cute!!!
    dan manen telur itu normal, tapi kalau sampai 1 karung???? T_T panas kepalaku membaca artikel ini..
    moga2 Tuhan itu adil..
    artikel ini dengan fotonya patut dimasukan ke berita!! sepantasnya dunia tau dan bertindak melebihi orang2 tak bertanggung jawab dan tak punya nurani ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s