Dara Laut Sahabat Petani di Beureunuen

 

 T. Mohd. Sanir dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Hamparan sawah yang luas di pedesaan dengan suasana yang sejuk nan asri. Aktifitas petani pun dimulai saat matahari terbit. Saat itu di areal persawahan Kecamatan Mutiara, Beureunun Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam sudah memasuki musim labuh. Sebagian areal sawah sudah ditumbuhi benih padi dan sebagian lagi sedang dibajak oleh petani setempat. Konon kebiasaannya sebelum musim labuh tiba, beberapa desa melaksanakan suatu tradisi berupa kenduri blang. Kenduri ini adalah suatu adat Aceh berupa makan bersama dengan harapan hasil panen petani nantinya berlimpah dan juga tersirat bentuk silaturahmi masyarakat didalam suatu desa.

Di areal sawah yang sedang ditanami padi terlihat beberapa pria dan wanita yang sedang bekerja penuh semangat. Puluhan burung kuntul tampak sedang mencari makan disekitarnya. Seperti yang telah di ketahui sejak dahulu burung ini sangat dekat dengan petani sawah, layaknya bagaikan sahabat. Para petani tidak pernah merasa terganggu karena kuntul memangsa hama padi seperti wereng dan belalang. Jenis Kuntul Kerbau (Bulbulcus ibis) adalah burung yang umum dijumpai didaerah ini. Beberapa kuntul kecil (Egretta garzeta) dan kuntul besar (Egretta alba) juga terlihat dan sesekali melintas Burung Cangak Abu (Ardea cinerea). Habitat alami burung kuntul adalah daerah lahan basah seperti sawah dan rawa-rawa.

Tak lama mesin traktor pun dihidupkan dan mulai berjalan pada petak sawah yang belum dibajak. Dari kejauhan terlihat sekumpulan burung dengan warna putih mencolok berterbangan dan mulai mendekati petani yang sedang membajak. Semula dugaannya adalah kuntul-kuntul yang terbang mendekati petani. Teropong/Binocular segera kami arahkan kesasaran bak membidik target. Kami tertegun melihat ramainya kawanan burung tersebut. Keterkejutan kami bertambah sebab yang tampak dari kejauhan burung tersebut tidak memiliki kemiripan dengan burung kuntul baik dari ukuran dan gaya terbangnya walaupun warna nya hampir sama. Bergegas kami melangkahkan kaki mendekati petani yang sedang membajak sawah. Ternyata ini bukan burung Kuntul melainkan jenis burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica).

 daralaecil.jpg

Gambar 1. Petani yang sedang membajak sawah dan burung Dara Laut Tiram (foto : Agus Nurza)

 Burung ini terbang sangat dekat dengan petani dan berputar-putar disekitarnya. Jumlah yang terhitung lebih dari 50 ekor burung Dara Laut Tiram yang terbang berkerumun didekatnya. Mereka terbang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap dan menukik cepat kepermukaan lumpur untuk menerkam makanan. Burung ini jarang menceburkan diri kedalam air. “Kuwk-wik/kik-hik-hik” begitu suaranya riuh sehingga suasana di areal persawahan bertambah semarak, bagai nuansa laut hadir di sini, di tengah-tengah areal persawahan.

Berdasarkan pada buku panduan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Mc Kinnon dkk.) burung Laut yang anggun ini tergolong dalam suku Sternidae yang tersebar di seluruh dunia. Melewati Indonesia sebagai burung migran dan berbiak di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Mungkin saja dinegeri asalnya sana tengah mengalami musim dingin hingga mereka mesti jauh-jauh kemari dan melakukan migrasi untuk melangsungkan hidupnya.

Suasana ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan daerah areal persawahan pada umumnya dimana yang mungkin akrab dengan petani hanyalah jenis burung kuntul. Tetapi di Beureunun ini terdapat tambahan jenis lain yakni Dara Laut Tiram (Sterna nilotica) yang termasuk dalam kategori burung migran dan burung ini termasuk pengunjung didaerah pantai, laguna, dan perairan yang jauh di pedalaman. Dari penuturan masyarakat setempat, burung Dara Laut telah mengunjungi areal persawahan mereka sejak beberapa tahun silam. Mereka sering mengintai makanan saat sawah sedang dicangkul atau dibajak. Tetapi setelah padi ditanam pada seluruh areal sawah burung ini pergi entah kemana dan yang tinggal hanya beberapa burung Kuntul.

Kemudian kami menelusuri seluruh areal persawahan Kecamatan Mutiara dengan berjalan kaki di pematang sawah dan terkadang harus menginjakkan yang kaki kedalam sawah. Meskipun matahari panas menyengat dan baju basah oleh cucuran keringat, tetapi kami tetap semangat menyusuri tiap areal persawahan yang di ramaikan oleh burung ini. Burung Dara Laut Tiram juga terlihat disekitar petani yang sedang mencangkul sawah dan traktor. Ternyata di desa Tiba-Jojo, Cot uri, Geulumpang, Geumpueng, dan Paloh Usi juga dikunjungi oleh burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica). Terhitung lebih dari 700 ekor burung Dara Laut berada di seluruh desa tersebut. Terkadang burung ini berputar bersama dalam jumlah besar mengelilingi sawah bagaikan burung Pemangsa (Raptor) migran.

traktor2.jpg

Gambar 2. Dara Laut Kecil dan Dara Laut Tiram  sedang beristirahat (foto : Agus Nurza)

 Sekelompok Dara Laut Tiram dan Dara Laut Kecil berkisar lebih dari 80 ekor juga tampak sedang beristirahat pada petak sawah yang berair bersih. Bahkan beberapa ekor tampak asik membasahi dan membersihkan bulunya yang anggun. Sawah tersebut tampak belum dikerjakan seperti sawah-sawah lain yang sedang ditanami padi atau dibajak. Selain Dara Laut Tiram, di desa Geumpueng juga teramati 30 ekor burung jenis Cerek-cerekan (Charadrius spp.) yang juga diketahui merupakan salah satu jenis burung air migran. Saat teramati burung-burung ini sedang beristirahat dan lainnya mencari makan di areal sawah yang berlumpur.

Akhirnya, hari pun menjelang sore dan anak-anak terlihat mulai membantu orang tuanya di sawah. Usai membantu orang tua, belasan anak-anak ini menghampiri kami. Kegembiraan pun terpancar saat mereka menyapa dan bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Akhirnya mereka mengamati burung-burung bersama dengan menggunakan teropong.

  anak.jpg

Gambar 3. Beberapa anak sedang mengamati burung di sawah (foto : Agus Nurza)

Mengamati burung benar-benar kegiatan yang mengasikkan dan dapat menghilangkan stres ditambah lagi dengan suasana pedesaan yang jauh dari bising, sesak dan pengap oleh polusi udara, suasana hening, tenang akan membuat tubuh, jiwa dan pikiran kembali jernih dan fresh. Suara kicauan burung aneka rupa, gemericik air selokan yang mengalir di pinggir sawah, desir angin berhembus lembut serta sambutan hangat oleh masyarakat dengan penuh kekeluargaan. Semua ini dapat ditemukan di desa salah satunya di kecamatan Mutiara Beuruenun ini yang juga merupakan salah satu tempat persinggahan burung migran.

 

Iklan

4 thoughts on “Dara Laut Sahabat Petani di Beureunuen

  1. kebetulan lagi browsing dan menemukan Blog yang menarik ini….sukses untuk kawan-kawan di NAD !!!

    untung yang berkeliaran di sekitar traktor itu Dara laut, coba kalau kuntul kerbau…kan namanya bisa jadi kuntul traktor hehehe…..atau dara laut tiramnya diganti namanya aja jadi dara laut traktor…..???

    silahkan berkunjung juga ke http://www.kibchome.multiply.com

    sory kemarin pas maen ke jogja ngak bisa ketemu ya…….

    SUKSES !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s