Risalah Angin Semilir
Angin berhembus, pada gesek ilalang dan dedaun yang bergoyang dalam iringan khidmat. Datang dari timur, titipkan pesan semerbak bunga yang mekar di musim semi. Tapi angin datang tak tentu, kadang pelan menghanyutkan, kadang kencang menghempas, sesekali diam tak beranjak. Seperti kehidupan ini jua, bosan sering hinggap saat pikiran buntu, semangat muncul kala embun pagi menggeliat. Kurasa hidup ini indah, sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja.
Pucuk-pucuk nyiur hijau melambai pelan saat kami kembali menekuri jalanan. Sebelumnya, rekan Cicem sempat bosan dan terpekur karena tidak ada bola lampu yang menyala di kepala. Sekitar sepuluh menit perjalanan, seorang rekan Cicem berteriak-teriak sambil mengacungkan telunjuknya ke angkasa. Dua ekor raptor yang diduga Elang Alap terbang berputar. Kami mencoba melihat lebih dekat dengan binokuler, sayang si raptor keburu pergi. Yang tampak hanya sekilas siluet hitam yang menjauh dan menghilang di udara biru bercampur putih. Kami bergerak lagi, mendekati ke arah terbangnya si raptor. Tak ada yang terlihat, lima menit kemudian kami berhenti untuk mendengarkan lantunan tembang syair burung yang bersahutan. “Cucak Kutilang” (Pycnonotus aurigaster) sedang bertengger berpasangan di atas sebuah pohon.
Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat dan jika memungkinkan cukup hanya mengambil gambar doang. Itu saja. Tetapi, siapa sih yang tidak risih jika saat-saat bercumbunya menjadi tontonan pihak lain. Terlebih untuk orang yang suka nenteng-nenteng kamera dengan senyum-senyum simpul. Belum selesai monokuler terpasang, belum sempurna senyum terkembang, eh.., yang seekor udah ngacir duluan dan hilang di dalam semak. Untuk satu yang tertinggal, jangan tanya deh gimana paniknya sang fotografer. “Jepret-jepret-jepret…!” Bahkan nyaris kesurupan bagaikan seorang prajurit yang membabi-buta memuntahkan pelurunya di tengah kepungan musuh. Oh, walah….! Tapi tenang saja, si fotografer dapat kok foto berpasangannya dalam kesempatan lain. Setelah cukup lama menekuni si Cucak Kutilang, di langit puluhan burung-burung kecil tampak terbang bergerombol. Diantara yang terbang tersebut beberapa di antaranya ada yang membawa sejenis rerumputan di paruhnya. Apakah untuk sarang?
(gambar pohon kelapa sarang Manyar Tempua)
“Ada yang aneh dari pohon kelapa itu!” Seru salah seorang rekan Cicem. Dari kejauhan terlihat bagai buah kelapa yang tergantung pada pelepah daun. Terhitung lebih dari 30 sarang manyar yang terdapat pada satu pohon. Sarang yang indah, bagi mereka burung-burung “Manyar Tempua” (Ploceus philippinus >› Baya Weaver) yang hidup berkoloni dan bekerja sama dalam membangun sarang. Di Aceh burung ini dikenal dengan nama Mirik. Mereka tak berhenti berkicau dengan suara “cicit-cicit” yang cepat. Sarangnya seperti kue karah (penganan khas Aceh) untuk yang sudah tua dan berwarna coklat. Tersusun atas anyaman rumput-rumputan dan ilalang, dengan dua helai daun kelapa sebagai pondasinya, tetapi hal ini lebih jelas terlihat pada sarang yang muda dan masih berwarna hijau. Sebentar-sebentar terbang, lalu kembali dengan rerumputan di paruhnya. Belum selesai sarang yang satu, eh.., sudah mengerjakan sarang yang lain. Lalu beradu argumen, hingga saling pukul karena rebutan sarang. Ada-ada saja, untung saja tidak seperti dalam aksi Hollywood yang menggunakan senjata api dan bahan peledak. Kalau sampai terjadi, wah.., seru!
(gambar Manyar Tempua)
Kami bersyukur atas kesempatan ini, melihat burung-burung bercengkrama di alam bebas. Tanpa sangkar, tanpa belenggu. Tapi, masihkah ada kesempatan bagi anak-cucu kita merasakan hal yang sama? Terlebih maraknya perburuan dan penangkapan burung untuk kesenangan semu makin marak. Semoga saja masih tersisa orang-orang yang peduli di luar sana, karena punahnya satu satwa bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Kita bersama yang melakukan, kita bersama yang bertanggung-jawab atas dampak perubahan lingkungan.
Cuaca cepat berubah, seperti suasana hatiku, maka langit perlahan telah di penuhi awan kelabu. Hujan berkabut datang dari selatan, waktu merangkak, dingin merangsek menyergap jiwa. Terkurung dalam bangunan ruang, yang diam tak bercerita. Lalu mengapunglah romantisme kerinduan tentang rumah berirama sendu. Kami ingin pulang! Tak peduli meskipun hujan membasahi tubuh dan hati kami. Sejenak sebelum melangkahkan kaki menjemput hujan, terasa semilir angin mengelus wajah kami. Sejuk dan kaku…! Dengar dan diam saja. Biarkan risalah angin semilir datang dan berlalu. Ambil yang kau perlu, tinggalkan yang tak berguna.



Tak Berkategori |
Ditulis oleh cicemnanggroe 


Tak Berkategori |
Ditulis oleh cicemnanggroe 