Risalah Angin Semilir

13 Maret 2008

Risalah Angin Semilir

Oleh: T. Mohd. Sanir

Angin berhembus, pada gesek ilalang dan dedaun yang bergoyang dalam iringan khidmat. Datang dari timur, titipkan pesan semerbak bunga yang mekar di musim semi. Tapi angin datang tak tentu, kadang pelan menghanyutkan, kadang kencang menghempas, sesekali diam tak beranjak. Seperti kehidupan ini jua, bosan sering hinggap saat pikiran buntu, semangat muncul kala embun pagi menggeliat. Kurasa hidup ini indah, sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja.

Pucuk-pucuk nyiur hijau melambai pelan saat kami kembali menekuri jalanan. Sebelumnya, rekan Cicem sempat bosan dan terpekur karena tidak ada bola lampu yang menyala di kepala. Sekitar sepuluh menit perjalanan, seorang rekan Cicem berteriak-teriak sambil mengacungkan telunjuknya ke angkasa. Dua ekor raptor yang diduga Elang Alap terbang berputar. Kami mencoba melihat lebih dekat dengan binokuler, sayang si raptor keburu pergi. Yang tampak hanya sekilas siluet hitam yang menjauh dan menghilang di udara biru bercampur putih. Kami bergerak lagi, mendekati ke arah terbangnya si raptor. Tak ada yang terlihat, lima menit kemudian kami berhenti untuk mendengarkan lantunan tembang syair burung yang bersahutan. “Cucak Kutilang” (Pycnonotus aurigaster) sedang bertengger berpasangan di atas sebuah pohon.

cucak-kutilang.jpg
(gambar Cucak Kutilang)

Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat dan jika memungkinkan cukup hanya mengambil gambar doang. Itu saja. Tetapi, siapa sih yang tidak risih jika saat-saat bercumbunya menjadi tontonan pihak lain. Terlebih untuk orang yang suka nenteng-nenteng kamera dengan senyum-senyum simpul. Belum selesai monokuler terpasang, belum sempurna senyum terkembang, eh.., yang seekor udah ngacir duluan dan hilang di dalam semak. Untuk satu yang tertinggal, jangan tanya deh gimana paniknya sang fotografer. “Jepret-jepret-jepret…!” Bahkan nyaris kesurupan bagaikan seorang prajurit yang membabi-buta memuntahkan pelurunya di tengah kepungan musuh. Oh, walah….! Tapi tenang saja, si fotografer dapat kok foto berpasangannya dalam kesempatan lain. Setelah cukup lama menekuni si Cucak Kutilang, di langit puluhan burung-burung kecil tampak terbang bergerombol. Diantara yang terbang tersebut beberapa di antaranya ada yang membawa sejenis rerumputan di paruhnya. Apakah untuk sarang?

baya-weaver-nest.jpg

(gambar pohon kelapa sarang Manyar Tempua)

“Ada yang aneh dari pohon kelapa itu!” Seru salah seorang rekan Cicem. Dari kejauhan terlihat bagai buah kelapa yang tergantung pada pelepah daun. Terhitung lebih dari 30 sarang manyar yang terdapat pada satu pohon. Sarang yang indah, bagi mereka burung-burung “Manyar Tempua” (Ploceus philippinus >› Baya Weaver) yang hidup berkoloni dan bekerja sama dalam membangun sarang. Di Aceh burung ini dikenal dengan nama Mirik. Mereka tak berhenti berkicau dengan suara “cicit-cicit” yang cepat. Sarangnya seperti kue karah (penganan khas Aceh) untuk yang sudah tua dan berwarna coklat. Tersusun atas anyaman rumput-rumputan dan ilalang, dengan dua helai daun kelapa sebagai pondasinya, tetapi hal ini lebih jelas terlihat pada sarang yang muda dan masih berwarna hijau. Sebentar-sebentar terbang, lalu kembali dengan rerumputan di paruhnya. Belum selesai sarang yang satu, eh.., sudah mengerjakan sarang yang lain. Lalu beradu argumen, hingga saling pukul karena rebutan sarang. Ada-ada saja, untung saja tidak seperti dalam aksi Hollywood yang menggunakan senjata api dan bahan peledak. Kalau sampai terjadi, wah.., seru!

baya-weaver.jpg

(gambar Manyar Tempua)

Kami bersyukur atas kesempatan ini, melihat burung-burung bercengkrama di alam bebas. Tanpa sangkar, tanpa belenggu. Tapi, masihkah ada kesempatan bagi anak-cucu kita merasakan hal yang sama? Terlebih maraknya perburuan dan penangkapan burung untuk kesenangan semu makin marak. Semoga saja masih tersisa orang-orang yang peduli di luar sana, karena punahnya satu satwa bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Kita bersama yang melakukan, kita bersama yang bertanggung-jawab atas dampak perubahan lingkungan.

Cuaca cepat berubah, seperti suasana hatiku, maka langit perlahan telah di penuhi awan kelabu. Hujan berkabut datang dari selatan, waktu merangkak, dingin merangsek menyergap jiwa. Terkurung dalam bangunan ruang, yang diam tak bercerita. Lalu mengapunglah romantisme kerinduan tentang rumah berirama sendu. Kami ingin pulang! Tak peduli meskipun hujan membasahi tubuh dan hati kami. Sejenak sebelum melangkahkan kaki menjemput hujan, terasa semilir angin mengelus wajah kami. Sejuk dan kaku…! Dengar dan diam saja. Biarkan risalah angin semilir datang dan berlalu. Ambil yang kau perlu, tinggalkan yang tak berguna.


Gelombang Yang Berbisik Pada Karang

2 Maret 2008

T. Mohd. Sanir

 

4451.jpg


Sebut saja daerah ini sebagai tempat yang tenang dan indah. Sebuah perkampungan yang dikelilingi laut dan gadis-gadis yang sedang berbaring dengan gaun hijau. Sementara di pantai beberapa pohon mati sedang mementaskan satu babak terakhir dari drama kehidupan. Kami cuma penonton, yang datang terlambat saat tirai hari akan di tutup. Laut bersenandung, jika ini iringan puji dan syukur kepada Tuhan, sungguh kami ingin ikut serta.

Sore yang cerah, saat kami kembali menjelajah. Seperti biasa, peralatan lapangan untuk pengamatan selalu setia menyertai tiap langkah. Tak ada yang istimewa, malah kelihatan sepi, buruan yang kami cari tidak kelihatan, “mungkin nanti, sebentar lagi” desis salah seorang rekan Cicem. Ya, kesabaran adalah buah yang manis, kami terus menekuni binokular dan memancang tripod yang diduduki monokular hingga apa yang kami cari datang. Seekor Kuntul Karang kelihatan sedang mencari makan di sela-sela pasir saat laut sedang surut. Walaupun yang tampak cuma seekor tetapi kami cukup puas, terlebih setelah berhasil mengabadikannya dalam bingkai kamera. Kuntul Karang ini sangat bersemangat, sampai-sampai tak lama kemudian terbang mendekati rekan Cicem yang sedang serius mengamati. Mungkin ia tak merasa terganggu dengan kehadiran kami, walaupun kami sempat kaku dan grogi dengan keakraban yang cuma sekitar lima meter ini. Selanjutnya rekan Cicem kembali bergerak menyusuri pantai, hingga bertemu dengan dua ekor kuntul karang lainnya yang sedang mencari makan di atas karang. Tempat yang menakjubkan sekaligus mendebarkan bagi kami. Bayangkan, kami harus turun dari lereng yang curam untuk melihat si kuntul karang ini. Yang seekor bergerak lincah mencari makan di antara karang-karang cadas, sementara temannya yang satu lagi hanya terpaku menatap laut, entah apa yang dipikirkannya.

copy-of-dsc02433.jpg

Informasi umum Kuntul Karang;

Nama Latin : Egretta sacra

Nama Indonesia : Kuntul karang

Nama Aceh : Kuk kareung/Kuk itam, Enggang kareung

Nama Inggris : Pasific reef-heron, Reef heron

Taksonomi :

- Kerajaan : Animalia

- Filum : Chordata

- Kelas : Aves

- Ordo : Ciconiiformes

- Family : Ardedae

- Genus : Egretta

- Spesies : E. sacra (Gmelin, 1789)

dsc02436.jpg

Status: Least Concern, Ukuran tubuh 57-66 cm, Berat rata-rata 400 g, Rentang sayap 90 sampai 110 cm, Musim berbiak mulai dari September ke Januari, tetapi dapat berbiak sepanjang tahun, Jumlah telur dua sampai tiga dengan warna bintik biru-kehijauan, masa Inkubasi 28 hari, Waktu didalam sarang 40 hari.

Kuntul Karang tersebar hampir seluruh tempat di Asia, termasuk India, Asia Tenggara, Jepang, Polinesia, Australia, Tazmania dan Selandia Baru. Terdapat dua morfologi warna pada burung kuntul karang ini. Pada bentuk putih; tubuh dan sayap putih, paruh kuning-kelabu, bagian muka kuning-kehijauan dan pada bagian kaki berwarna kuning suram. Pada bentuk gelap (paling umum); tubuh dan sayap ditutupi oleh warna hitam kelabu, dengan coretan putih kecil di bagian tenggorokan. Ukuran tubuh lebih besar dari kuntul kerbau, tetapi paruh dan tubuh lebih ramping. Ditemukan di daerah pantai berkarang, mencari makan dan membuat sarang di atas tanah pada tumpukan karang atau di daerah antara mangrove dan palem. Ketika berbiak, sarang tersusun oleh ranting dan dedaunan. Makanannya terdiri dari ikan, crustacea dan molusca.

Langit beranjak gelap, gelombang laut telah berbisik pada karang dan membisikkan kepada kami agar segera pulang. Saatnya berkemas dan beranjak pergi, tentu saja dengan senyum yang terkembang dan ucapan berterima-kasih atas keramah-tamahan yang kami rasakan. Esok hari jika tuhan mengizinkan kami akan kembali.