Langit Kelabu di Ujung Matamu

18 Februari 2008

(T. Mohd. Sanir)

Dalam beberapa hari belakangan ini, matahari sedang garang-garangnya bersinar di Banda Aceh. Hal ini sangat kontras dibandingkan dengan beberapa tempat lain di tanah air yang sering hujan. Indikasi pemanasan global yang mempengaruhi musim? Mungkin saja, tetapi kegiatan mendongakkan wajah ke langit belum berhenti, bukannya memperhatikan gugusan awan dan mengharapkan hujan datang, tetapi lebih sering memperhatikan burung yang sedang melintas. Seperti pada satu sore yang berawan (kupikir hujan akan datang), tampak burung layang-layang terbang di angkasa. Cukup menarik dan penuh aksi akrobatik, sungguh mereka membuatku iri. Andai manusia dapat terbang, mungkin saja ketergantungan akan bahan bakar akan sedikit berkurang. Tetapi kehidupan sudah seperti itu adanya, semua memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Bukankah sudah jelas bahwa manusialah yang menciptakan kerusakan di muka bumi. Bukan saatnya untuk bersedih atau  menyesali diri, lebih baik berbuat sesuatu dan memperbaiki apa yang salah.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-05.jpg

Gambar 1. Raptor jenis Elang Kelabu (Butastur indicus)

  Saat sedang asyik melihat burung layang-layang, plus imaji-imaji kecil yang menari di relung kepala, nun diseberang sana, di atas dahan pohon kelapa terlihat seekor burung elang. Dari hasil identifikasi bareng rekan Cicem Nanggroe, sepertinya ia adalah burung pemangsa jenis Elang Kelabu (Butastur indicus). Hanya seekor, tetapi matanya awas melihat kekiri-kanan mencari mangsa. Tidak Cuma mengamati keadaan disekitarnya, tetapi juga mengamati kami, seolah ia tahu kalau sedang di pantau. Untung saja ia tak merasa jengkel hingga akhirnya terbang, atau lebih parah lagi sampai melapor ke KOMNAS-HAM karena telah mengganggu privatisasinya. Elang kelabu atau inggrisnya Grey-faced Buzzard adalah elang yang berukuran sedang, kurang lebih 45 cm, berwarna kecoklatan dengan warna strip putih yang jelas di bagian alis, paruh berwarna hitam dengan sere kuning, iris mata kuning terang, garis hitam vertikal di daerah tengah kerongkongan, dada dengan garis coklat kemerahan dan putih sampai ke bagian bawah, punggung kecoklatan dan di bagian ekor terdapat strip hitam dan putih. Penyebaran globalnya berbiak di Asia timur laut, pada musim dingin ke selatan sampai Asia tenggara. Sedangkan penyebaran lokalnya, termasuk pengunjung musim dingin atau pengembara di daerah Sunda besar, Kalimantan bagian utara dan Sumatra (MacKinnon dkk., 1995).

 Elang kelabu merupakan jenis burung pemangsa atau raptor, di alam jenis-jenis raptor adalah indikator bagi keseimbangan alam. Sebagai pemangsa puncak pada piramida makanan, adanya raptor tentu saja menunjukkan keadaan lingkungan yang baik dan stabil. Terlebih lagi Elang kelabu termasuk jenis raptor migran atau pengembara, tentu saja ia tidak sembarangan memilih tempat menetap sementara seandainya di tempat tersebut tidak menyediakan makanan yang cukup dan keadaan alam yang mendukung untuk hidup. Bukankah tujuannya melakukuan migran adalah sebuah pilihan untuk bertahan hidup. Yah, walaupun masuknya secara diam-diam dan tak melapor ke kantor urusan imigrasi, tetapi fenomena burung raptor migran sungguh menarik untuk di amati dan di bahas. Sejak kapan ia datang dan sampai kapan visa menetapnya akan berakhir merupakan hal yang tak dapat di pisahkan dari pengaruh musim. Selama tujuannya datang kemari untuk maksud yang baik, apa salahnya jika kita menjadi tuan rumah yang santun. Tidak mengganggu, tidak menembak, tidak menjerat, atau mempersulit izin tinggal sementaranya di Nanggroe Aceh Darussalam. Jika hal ini bisa tercapai setidaknya kita harapkan dapat menjadi promosi gratis sampai ke luar negeri bahwa Aceh merupakan negeri yang mempesona dan mengangumkan, plus bonus banyak kadal dan tikus beraroma tropis di sini. Ibaratnya terpuaskan lewat mata (wisata panorama) dan terpuaskan lewat lidah (wisata kuliner), tapi promo ini khusus raptor saja lho.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-04.jpg

Gambar 2. Elang Kelabu sedang bertengger di pohon kelapa

Tetapi sore itu bukanlah pertemuan kami yang terakhir, beberapa hari setelahnya kami berjumpa kembali, walau bukan di tempat yang sama dan dalam gelombang yang serupa. Kali ini dengan efek yang lebih menarik dan dramatis. Pada jarak sekitar 15 meter, si elang kelabu yang bertengger di sebatang pohon mati sedang mencengkram seekor tikus dengan kakinya, lalu sejurus kemudian mencabik dan mulai menyantap daging tikus dengan lahapnya. Aku dan dua orang rekan Cicem Nanggroe mencoba mendekat, hanya beberapa detik untuk kemudian raptor ini terbang ke pohon kelapa dengan jarak yang sudah tidak optimal lagi bagi binokuler. Sayang memang momen ini tidak sempat terekam. Tapi ya sudahlah tak mengapa,mungkin saja ia tipe raptor yang tak nyaman di perhatikan saat sedang makan. Bukankah tiap makhluk memiliki karakteristik yang berbeda-beda? Alangkah menjemukannya hidup seandainya semua makhluk sama dan setipe, ada yang mengatakan bahwa perbedaan itu indah dan menerima dan menyatukan perbedaan adalah hal yang paling indah. Aku dan rekan Cicem Nanggroe pun berlalu dari tempat tersebut, sebenarnya hari itu kami bukan dalam tugas pemantauan, tetapi tetap saja jika ada burung dari jenis apapun dan kelihatan menarik untuk dibahas dan berbagi informasi, sungguh kami takkan sungkan mengenyampingkan urusan lain. Mungkin saja ini hobby, mungkin juga semacam panggilan jiwa, tapi jelas lebih baik dari pada kami diam dan tak berbuat sesuatu apapun untuk hal yang kami senangi. Banyak yang sayang sama burung, banyak yang mengaku-ngaku cinta sama burung, tetapi apakah cinta yang dimaksud adalah dengan cara menempatkan burung di dalam sangkar? Aku rasa hal ini adalah buah dari keegoisan manusia itu sendiri, bukankah cinta yang seutuhnya itu adalah cinta yang berasal dari kedua belah pihak? Tak ada unsur paksaan, bukan untuk di eksploitasi, juga bukan untuk selalu di pingit. Emang ini zaman Siti Nurbaya?

 Lama aku tak melihat lagi si Elang Kelabu, hingga pada hari minggu ke tiga di bulan Februari ini, di sebatang pohon kelapa, persis hampir serupa seperti saat pertemuan pertama kami. Tampak ia bertengger di dahan dan menatap ke arahku, tetapi tidak melirik ke kanan-kiri. Tidak awas, tidak waspada. Sepertinya ini titik-titik terrapuh dalam hidupnya, apakah karena cinta kami yang harus segera berakhir karena ia mesti kembali ke tanah kelahirannya? Aku tidak berani mengiyakan, tidak juga berani menggelengkan kepala. Tetapi sore itu aku melihat langit kelabu di ujung matanya. Perjalanan jauh menanti, bekal makanan yang memadai, istirahat yang cukup dan selamat jalan, sampai bertemu kembali jika ada umur panjang.


ELANG BONDOL MENUNTUT ILMU DI JANTOENG HATEE RAKYAT ACEH

8 Februari 2008

Oleh : Husnu Rijal

(http://bwsnour.co.cc)

 

Elang bondol (Haliastur Indus) merupakan salah satu jenis burung pemangsa (Raptor) yang sangat gagah, sering mengunjungi daerah rawa, sungai, muara, pesisir pantai dan kepulauan hingga daerah dengan ketinggian sampai 2800-3000 mdpl. Di Jakarta, elang ini ditetapkan menjadi maskot ibukota sejak tahun 1989. Umumnya burung ini terdapat di Sumatera, Kalimantan. Pada daerah Jawa & Bali  saat ini sudah jarang ditemukan. Di Jakarta, terdapat di Cagar Alam Pulau Rambut, diperkirakan tinggal 10 ekor (http://www.iwf.or.id/elangbondol.html).  Meski bukan burung migran antar benua, penyebaran elang bondol juga ditemukan di India, Cina Selatan, Filipina, Australia dan juga di beberapa negara lainnya.

Elang bondol berukuran panjang sekitar 45-52 cm, dengan lebar sayap 110-125 cm, panjang ekor 18-22 cm. Elang bondol memiliki warna putih dengan coretan hitam vertikal dari kepala, leher sampai perut dan coklat kepirangan pada bagian atas sayap sampai ekor. Perbedaan antara burung muda dengan dewasa adalah ujung ekornya bundar bukan menggarpu. Iris coklat, paruh-sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram. Pekikannya mengelih dan mengeong-ngeong “syii-ii-ii” atau “kwiiaa”.

 

elang-bondol-03.jpg

  Gambar 1 : Elang Bondol yang sedang bertengger di pohon cemara laut (Photo: Agus Nurza)

 

 

Elang bondol  memiliki kebiasaan terbang melayang-layang sambil mengintai mangsanya dari atas dan jika mangsanya sudah terlihat maka elang bondol akan langsung terbang menukik untuk menangkap mangsanya. Selama musim kawin (November-Desember), elang bondol sering melakukan akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangan baik di dekat pasangannya maupun di dekat sarangnya (http://www.naturia.per.sg/buloh/birds/Haliastur_indus.htm). Elang bondol memanfaatkan pohon-pohon besar dan tinggi untuk membangun sarang dan menggunakan ranting-ranting pohon yang disusun rapi. Elang bondol bertelur 2-3 butir telur (http://wongsuro.multiply.com/journal/item/2).  Beberapa diantaranya memanfaatkan pohon yang sudah mati (barang kali pohon itu masih hidup ketika pertama kali raptor tersebut membangun sarang).

Di Nanggroe Aceh Darussalam elang bondol selama ini terlihat di Kampus Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh pada saat pengamatan raptor yang dilakukan oleh Pengamat Burung Aceh “Cicem Nanggroe” pada bulan Januari 2008, sepasang Elang bondol terlihat sedang bersarang di pohon cemara laut (Casuarina equisetipholia) pada ketinggian ± 35 m dari tanah. Di Singapura, raptor tersebut juga pernah diamati membangun sarang pada pohon cemara laut, sarang jantan dengan betina dibangun terpisah pada pohon lain pada jarak 100 m. Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat burung Aceh “Cicem Nanggroe” hanya terbatas pada pagi hari, hal ini untuk menghindari perhatian orang-orang yang ingin memburu atau menangkap raptor tersebut.

Sebenarnya, pemantauan raptor jenis bondol ini relatif mudah yaitu dengan mengunjungi lokasi-lokasi yang telah direkomendasikan seperti cagar alam, taman nasional, dan masih banyak lagi, kemudian mencatat hasil dari pemantauan tersebut melingkupi jumlah individu atau jumlah raptor tersebut dan jenisnya serta tingkah laku raptor tersebut. Akan tetapi, bagi pemula hal ini sulit dilakukan khususnya cara-cara identifikasi dan menghitung jumlah raptor.

 elang-bondol.jpg
Gambar 2 : Elang Bondol yang sedang membangun sarang (Photo: Agus Nurza)

Pengamatan raptor memiliki keunikan tersendiri dan bisa digolongkan dalam kategori sulit. Kesulitan tersebut pertama disebabkan oleh jarak pemantau dengan raptor umumnya jauh (150 meter sampai 1 km). Kedua, hampir seluruh jenis raptor memiliki warna yang sangat monoton yaitu hitam, putih dan kelabu atau coklat. Jadi, membedakan diantara seluruh jenis raptor hanya corak dari perbedaan letak warna tersebut, atau perbedaan totol dan garis-garis pada seluruh anggota badan raptor tersebut. Dan hal yang paling sulit lagi yaitu pada saat terbang, dimana hampir seluruh tubuhnya bernuansa hitam dan putih (kalau menentang matahari, hanya bernuansa silau atau hitam saja). Cara membedakannya hanya berupa bentuk keseluruhan tubuh raptor tersebut dan melihat ciri khas dari bentuk raptor tersebut misalnya ciri khas ekor, cara terbang, panjang leher dan proporsi anggota badan. Cara ini biasanya dilakukan oleh pemantau-pemantau yang telah berpengalaman.

Bagi beberapa pengamat burung, efektivitas waktu pengamatan raptor kadang-kadang tidak tentu, akan tetapi pengamat burung Cicem Nanggroe untuk melakukan pengamatan raptor lebih memilih pada waktu pagi hari sampai siang hari (hal ini untuk menghindari perhatian dari para pemburu/birdhunter). Penentuan waktu ini berdasarkan pengalaman pemantauan saja. Alat-alat yang perlu disiapkan termasuk monokuler dengan bantuan tripod, binokuler, buku panduan lapangan dan buku catatan.


 


PEMANGSA DISEKITAR KITA

1 Februari 2008

Oleh : Ricko Laino Jaya

(Cicem Nanggroe)

Elang merupakan salah satu jenis burung yang dikenal sebagai pemangsa, layaknya harimau di darat, elang disebut sebagai raja angkasa. Elang dalam hidupnya terbiasa menyendiri untuk memudahkan berburu secara diam-diam, kecuali pada musim kawin.

Sebenarnya ketertarikan manusia pada elang sudah dari jaman dulu, contohnya pemimpin suku-suku di Indian memakai bulu elang sebagai aksesoris dari lambang kebesaran. Bahkan pada beberapa negara, elang dipakai sebagai simbol atau lambang dari negara tersebut. Indonesia sendiri menggunakan burung mitos Garuda yang merupakan nenek moyangnya Elang Jawa (Javan Hawk Eagle-Spizaetus bartelsi) sebagai lambang negara. Sampai sekarang elang terus dipelajari keunikkannya oleh ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu dan beberapa dari keunikkan raja angkasa ini diadaptasi dalam teknologi manusia.

Salah satu kelebihan dari elang adalah kemampuan manuvernya yang luar biasa. Mungkin kita pernah melihat elang terbang berputar-putar ditempat, dan kita berpikir bahwa ia sedang mengintai mangsa. Sebenarnya hal ini dilakukan selain mencari ketinggian optimal sebelum menerkam mangsa atau juga sedang menghemat tenaga untuk terbang dengan memanfaatkan gelombang panas bumi dan saluran udara yang tercipta.

Untuk lebih mengenal elang, selain membaca dari buku-buku, juga bisa dilakukan dengan cara pengamatan langsung (birdwatching). Kegiatan mengamati burung seperti elang adalah kegiatan yang mengasyikkan. Mulai dari cara terbangnya yang anggun, cara memangsanya yang cepat dan mematikan, hingga aktivitas bersarang dan berkembang biaknya. Terkadang kita bisa menemukan hal yang menarik dari pengamatan burung ini. Misalnya pengalaman kami yang dimulai sejak awal Januari sewaktu mengamati burung di daerah Darussalam. Selain menemukan Elang Bondol, kami juga menemukan salah satu jenis elang migran. Semula kami menduga ini adalah Elang Alap China (Accipiter soloensis). Untuk membantu identifikasi, kami mengirim photo burung tersebut ke sebuah forum pengamat burung di Indonesia.

upload.jpg

Menurut hasil identifikasi beberapa pengamat burung Indonesia, burung ini adalah jenis Shikra (Accipiter badius). Shikra berukuran 26-30 cm dan mempunyai sayap lebar dan pendek serta ekor yang panjang. Keduanya diadaptasi untuk manuver cepat sewaktu terbang didaerah dengan formasi semak dan hutan yang rapat. Shikra tersebar daerah selatan Asia dan sub-sahara Africa, tiap tahun membuat sarang pada pohon dan biasanya bertelur 3-7 butir tiap tahunnya. Shikra memang termasuk burung migrasi dan tidak mengherankan apabila Shikra terlihat di Aceh. Mungkin saja Aceh termasuk jalur migrasi burung tersebut. Tapi yang menarik adalah dalam beberapa hari pengamatan, kami menemukan bahwa beberapa pasang Shikra sedang membuat sarang pada pohon cemara. Sebelumnya belum terdapat catatan tentang burung Shikra yang berkembang biak di wilayah Aceh. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar karena pada umumnya burung migrasi hanya membuat sarang di daerah asalnya. Sarang ini dipersiapkan untuk mulai berkembang biak. Dan burung migran tercatat selalu berkembang biak di daerah asalnya. Ada apa dengan daerah asalnya? Dan kenapa Shikra berkembang biak di Aceh? Untuk menjawab pertanyaan ini, rasanya kami perlu melakukan pengamatan dan pemantauan lanjutan. Semoga saja apa yang kami perkirakan akan terjadi dan burung ini menjalani breeding di Aceh. Siapa tahu…?