PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG

24 Januari 2008

Oleh : Agus Nurza, T. Mohd Sanir, dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Sebelumnya perlu kami perjelas bahwa Pengembara disini bukan ditujukan kepada orang-orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan melintasi Aceh. Pengembara yang dimaksud adalah burung migran yang diketahui menempuh perjalanan ribuan mil setiap pergantian musim. Pernah terlihat di pantai Banda Aceh tetapi belum memberikan informasi yang cukup memadai. Terkadang keberadaan mereka tidak terpantau dan kurang mendapat perhatian seperti burung endemik yang terancam punah. Hal ini terjadi di pelbagai tempat di Indonesia, tetapi sejak kasus flu burung merebak, burung liar terutama jenis burung migran yang bebas keluar-masuk ke suatu wilayah tanpa harus menggunakan surat izin tertentu, memiliki peranan yang penting malah dianggap menjurus ke arah yang membahayakan.

Di dunia saat ini pemanasan global merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Faktanya, setiap tahun terjadi peningkatan suhu di seluruh dunia. Burung-burung migran termasuk jenis satwa yang sangat peka terhadap situasi ini, perubahan musim yang datang terlalu cepat mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Mereka dapat melakukan migrasi terlalu cepat atau bahkan terlalu lama tergantung perubahan musim yang akhir-akhir ini menjadi semakin tak menentu. Sebelumnya, Aceh belum diketahui termasuk ke dalam garis lintas migrasi burung-burung migran. Tetapi terjadinya perubahan keadaan dan lingkungan mungkin termasuk faktor yang menjadi pemicu terciptanya situasi ini.

Suatu pengamatan terhadap burung-burung air migran yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar telah dilakukan yang dimulai pada bulan September 2007 dan berakhir pada bulan November 2007. Wilayah yang diamati adalah wilayah tambak dan pesisir pantai yang secara umumnya merupakan areal pertambakan dan hutan pantai yang sedang dalam tahap pertumbuhan setelah hancur akibat bencana tsunami.

Burung air migran yang teramati di Banda Aceh dan Aceh Besar adalah burung Gajahan Besar (Numenius arquata), Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis), Biru Laut Ekor Blorok (Limosa lapponica), Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil (Tringa spp.), Kedidi Belang (Calidris alpina), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung Besar (Charadrius hiaticula), Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), dan Cerek (Charadrius spp.).

Burung air migran sering dijumpai di lokasi berbeda, diantaranya area pertambakan dan pesisir pantai di Desa Krueng Cut, Tibang, Jeulingke, Deah Glumpang, Neuheun, Lam Nga, Ujong Batee, Ladong, dan Krueng Raya dimana daerah ini merupakan bagian pesisir pantai utara Banda Aceh – Aceh Besar yang secara topografi wilayah-wilayah tersebut masih dalam satu garis pantai utara Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelum Tsunami terjadi kawasan pengamatan ini merupakan habitat burung air yang baik karena pada kawasan ini masih dijumpai komposisi vegetasi yang lengkap dan rapat, meskipun banyak lahan mangrove dialih-fungsikan untuk lahan tambak. Tambak yang dikelola secara perorangan cenderung menggunakan sistem tambak empang parit yakni hanya bagian pinggiran yang dimanfaatkan untuk budidaya dan dibagian tengah tetap ditempati manggrove. Cara yang demikian menguntungkan bagi kehidupan burung seperti yang pernah terlihat di daerah Jeulingke, Neuhun dan Ladong, terutama dalam pemantauan predator dan memudahkan burung dalam mengintai pakan. Meskipun kehidupan burung tidak terganggu secara ekologis tetapi burung-burung tersebut mengalami gangguan dari manusia.

Kawasan ini sedang dalam proses pemulihan. Memang sudah hampir semua daerah telah ditanami pepohonan mangrove, akan tetapi struktur ekosistem pantai belum pulih secara sempurna. Butuh waktu lama untuk mencapai kondisi yang ideal dan sesuai seperti dahulu. Sampai sekarang keadaan kawasan ini masih memprihatinkan. Berbagai ancaman saat ini mulai terlihat, seperti banyaknya sampah yang dibawa oleh aliran sungai di dekatnya. Sampah-sampah non-organik tentu saja membahayakan burung-burung tersebut. Keadaan ini diperparah dengan adanya aksi pengambilan dan perburuan terhadap sarang burung-burung. Padahal Burung air juga merupakan salah satu atribut kunci dari keanekaragaman pada kebanyakan lahan basah, dan komponen kuantitas dan kualitas dari burung air adalah landasan yang digunakan untuk identifikasi pentingnya lahan basah.

 
hunter1.jpg

Gambar 1. Pemburu burung air di kawasan Deah Glumpang Banda Aceh (foto : Agus Nurza)

 
Sang Pengembara dunia ini juga disambut hangat dengan peluru-peluru senapan. Saat pengamatan dilakukan tak jarang berbagai tempat pengamatan dijadikan sebagai tempat area perburuan. Prilaku pemburu juga berbeda-beda bahkan berburu burung dengan gaya bak ‘film action’. Seperti pada gambar di atas, pemburu sedang memburu burung air migran. Pada saat tertangkap kamera, mereka sedang menembak sekelompok burung jenis 
Gajahan Besar (Numenius arquata), dan  Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis) serta jenis Kokoan Laut dan Kuntul yang juga berada ditempat tersebut. Padahal di Indonesia semua jenis burung Gajahan dan kuntul dilindungi. Tapi sayang, status burung dilndungi cenderung banyak diketahui oleh praktisi bukan masyarakat luas. Fenomena seperti ini juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

 telur1.jpg

Gambar 2. Masyarakat sedang mengambil telur burung (foto : Agus Nurza)

 Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat, sebelum tsunami masyarakat setempat sering memanen telur burung pada waktu musim burung bertelur (Gambar 2.). Jumlah telur diambil dari sangkar kadang mencapai satu karung ukuran besar bahkan lebih. Pengambilan telur seperti itu jelas akan berpengaruh pada kelangsungan hidup mereka. Selain itu proses perburuan dengan menggunakan senjata seperti senapan angin kerap dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang perlu diwaspadai karena berbagaii jenis burung atau telur yang diambil dapat saja berstatus dilindungi dan mungkin beberapa diantaranya terancam punah.

Burung merupakan satwa yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kelestarian burung di alam merupakan salah satu kunci kelestarian alam. Dengan menjaga lingkungan, tentu saja melestarikan alam yang juga sebagai sumber daya alam yang baik sebagai tempat bergantung hidup bagi penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani ikan dan nelayan.

Pengembara ibarat tamu, seharusnya kita dapat menjamu mereka dengan baik dan ramah. Setidaknya tidak mengusik keberadaannya atau merusak habitat alaminya. Walaupun ia adalah burung, tetapi jika kehidupannya terganggu tentu akan menyebabkan ancaman akan keberadaannya lalu skenario terburuk adalah terjadinya kepunahan. Bukankah putusnya satu mata rantai kehidupan akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri?. Hal seperti inilah yang seharusnya perlu kita renungkan dan kita resapi, bukan semata untuk kehidupan kita saat ini tetapi juga sebagai warisan kepada anak cucu kita kelak.

 


JULANG EMAS DI PULOT

24 Januari 2008

Oleh : Husnu Rijal

(Cicem Nanggroe)

dsc09615.jpg

Pagi yang mendung, terasa berat hendak melangkah, namun mengingat ekspedisi burung kami mencoba meringankan langkah kaki menuju kesuatu daerah yang pernah dikhabarkan adanya burung yang unik dan langka yaitu Desa Pulot Kec. Leupueng. Aceh Besar.

Pulot adalah salah satu desa yang terletak di pinggiran laut dan juga di pinggiran perbukitan. Perbukitan yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan pohon-pohon besar. Pasca tsunami hutan yang menjadi ekosistem bagi berbagai jenis fauna khususnya Avifauna menjadi rusak, KENAPA? Bukan karena diterjang oleh gelombang tsunami yang dahsyat, akan tetapi hutan di pulot hancur akibat pembuatan jalan baru dan perkampungan baru. Salah satu jenis Avifauna yang berada di sekitar ekosistem Desa Pulot adalah julang emas (Aceros undulatus).

Dari pengamatan yang dilakukan pada tanggal 11 November 2007 di Desa Pulot hanya terlihat 1 ekor burung julang emas (A. undulatus) yang sedang istirahat dan kemudian terbang di sekitaran perbukitan desa setempat.

Julang emas (A. undulatus) (Ing: Wreathed Hornbill) merupakan salah satu jenis burung rangkong yang hidup di Nanggroe Aceh Darussalam, selain rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan rangkong papan (Buceros bicornis). Julang emas mempunyai ukuran tubuh yang besar (100 cm), ekor berwarna putih. Bagian punggung, sayap dan perut berwarna hitam, kaki tegap dan kuat berwarna hitam. Jantan; kepala berwarna krem, bulu halus berwarna kemerahan atau merah bata pada tengkuk, kantung leher kuning tidak berbulu dan membentuk gelambir dengan strip hitam yang khas. Betina; kepala berwarna krem bulu halus berwarna hitam terbentuk dari tengkuk, kantung leher biru tidak berbulu. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Rangkong yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. Sering mengeluarkan suara “ku-guk” diulang-ulang, pendek dan parau. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras. Kelompok burung Rangkong (Bucerotidae) merupakan salah satu jenis burung yang bersifat arboreal.

Burung Rangkong termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU.

Burung rangkong merupakan pemakan segala (omnivora), beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis rangkong ini juga sebagai pemakan buah (frugivora) dan sangat menggemari buah Ara (Ficus sp.). Kelompok burung Rangkong (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Rangkong tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Rangkong keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah. Menurut warga setempat, burung julang emas (A. undulatus) atau yang lebih dikenal dengan enggang/rangkong (cicem keureunda-Aceh, red.), sering terbang di sekitar wilayah Pulot bahkan sering hinggap di salah satu pohon di dekat desa tersebut, pohon dengan nama daerahnya yaitu bak geundreut merupakan pohon yang besar dan bertajuk tinggi. Pohon tersebut mendominasi sebagai pohon yang bertajuk tinggi (arboreal) di perbukitan Desa Pulot dan sangat berpotensi bagi burung julang emas sebagai tempat istirahat dan mencari makan. Rangkong istirahat dalam banyak kelompok yang terbagi dalam beberapa rusting tree. Dengan berkelompok, rangkong juga merasa aman dan nyaman untuk istirahat. Bila ada satu individu yang merasa terancam maka dia akan mengeluarkan alarm call (tanda bahaya). Dan ramai-ramai pula kelompok itu membubarkan diri. Keberadaan julang emas (A. undulatus) di kawasan Desa Pulot telah menambah kekayaan alam hayati khususnya dari kelompok Avifauna, apalagi jenis ini merupakan salah satu jenis rangkong yang dilindungi karena jumlahnya yang sudah sangat sedikit (status: Least Concern/LC).


Dara Laut Sahabat Petani di Beureunuen

23 Januari 2008

 

 T. Mohd. Sanir dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Hamparan sawah yang luas di pedesaan dengan suasana yang sejuk nan asri. Aktifitas petani pun dimulai saat matahari terbit. Saat itu di areal persawahan Kecamatan Mutiara, Beureunun Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam sudah memasuki musim labuh. Sebagian areal sawah sudah ditumbuhi benih padi dan sebagian lagi sedang dibajak oleh petani setempat. Konon kebiasaannya sebelum musim labuh tiba, beberapa desa melaksanakan suatu tradisi berupa kenduri blang. Kenduri ini adalah suatu adat Aceh berupa makan bersama dengan harapan hasil panen petani nantinya berlimpah dan juga tersirat bentuk silaturahmi masyarakat didalam suatu desa.

Di areal sawah yang sedang ditanami padi terlihat beberapa pria dan wanita yang sedang bekerja penuh semangat. Puluhan burung kuntul tampak sedang mencari makan disekitarnya. Seperti yang telah di ketahui sejak dahulu burung ini sangat dekat dengan petani sawah, layaknya bagaikan sahabat. Para petani tidak pernah merasa terganggu karena kuntul memangsa hama padi seperti wereng dan belalang. Jenis Kuntul Kerbau (Bulbulcus ibis) adalah burung yang umum dijumpai didaerah ini. Beberapa kuntul kecil (Egretta garzeta) dan kuntul besar (Egretta alba) juga terlihat dan sesekali melintas Burung Cangak Abu (Ardea cinerea). Habitat alami burung kuntul adalah daerah lahan basah seperti sawah dan rawa-rawa.

Tak lama mesin traktor pun dihidupkan dan mulai berjalan pada petak sawah yang belum dibajak. Dari kejauhan terlihat sekumpulan burung dengan warna putih mencolok berterbangan dan mulai mendekati petani yang sedang membajak. Semula dugaannya adalah kuntul-kuntul yang terbang mendekati petani. Teropong/Binocular segera kami arahkan kesasaran bak membidik target. Kami tertegun melihat ramainya kawanan burung tersebut. Keterkejutan kami bertambah sebab yang tampak dari kejauhan burung tersebut tidak memiliki kemiripan dengan burung kuntul baik dari ukuran dan gaya terbangnya walaupun warna nya hampir sama. Bergegas kami melangkahkan kaki mendekati petani yang sedang membajak sawah. Ternyata ini bukan burung Kuntul melainkan jenis burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica).

 daralaecil.jpg

Gambar 1. Petani yang sedang membajak sawah dan burung Dara Laut Tiram (foto : Agus Nurza)

 Burung ini terbang sangat dekat dengan petani dan berputar-putar disekitarnya. Jumlah yang terhitung lebih dari 50 ekor burung Dara Laut Tiram yang terbang berkerumun didekatnya. Mereka terbang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap dan menukik cepat kepermukaan lumpur untuk menerkam makanan. Burung ini jarang menceburkan diri kedalam air. “Kuwk-wik/kik-hik-hik” begitu suaranya riuh sehingga suasana di areal persawahan bertambah semarak, bagai nuansa laut hadir di sini, di tengah-tengah areal persawahan.

Berdasarkan pada buku panduan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Mc Kinnon dkk.) burung Laut yang anggun ini tergolong dalam suku Sternidae yang tersebar di seluruh dunia. Melewati Indonesia sebagai burung migran dan berbiak di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Mungkin saja dinegeri asalnya sana tengah mengalami musim dingin hingga mereka mesti jauh-jauh kemari dan melakukan migrasi untuk melangsungkan hidupnya.

Suasana ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan daerah areal persawahan pada umumnya dimana yang mungkin akrab dengan petani hanyalah jenis burung kuntul. Tetapi di Beureunun ini terdapat tambahan jenis lain yakni Dara Laut Tiram (Sterna nilotica) yang termasuk dalam kategori burung migran dan burung ini termasuk pengunjung didaerah pantai, laguna, dan perairan yang jauh di pedalaman. Dari penuturan masyarakat setempat, burung Dara Laut telah mengunjungi areal persawahan mereka sejak beberapa tahun silam. Mereka sering mengintai makanan saat sawah sedang dicangkul atau dibajak. Tetapi setelah padi ditanam pada seluruh areal sawah burung ini pergi entah kemana dan yang tinggal hanya beberapa burung Kuntul.

Kemudian kami menelusuri seluruh areal persawahan Kecamatan Mutiara dengan berjalan kaki di pematang sawah dan terkadang harus menginjakkan yang kaki kedalam sawah. Meskipun matahari panas menyengat dan baju basah oleh cucuran keringat, tetapi kami tetap semangat menyusuri tiap areal persawahan yang di ramaikan oleh burung ini. Burung Dara Laut Tiram juga terlihat disekitar petani yang sedang mencangkul sawah dan traktor. Ternyata di desa Tiba-Jojo, Cot uri, Geulumpang, Geumpueng, dan Paloh Usi juga dikunjungi oleh burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica). Terhitung lebih dari 700 ekor burung Dara Laut berada di seluruh desa tersebut. Terkadang burung ini berputar bersama dalam jumlah besar mengelilingi sawah bagaikan burung Pemangsa (Raptor) migran.

traktor2.jpg

Gambar 2. Dara Laut Kecil dan Dara Laut Tiram  sedang beristirahat (foto : Agus Nurza)

 Sekelompok Dara Laut Tiram dan Dara Laut Kecil berkisar lebih dari 80 ekor juga tampak sedang beristirahat pada petak sawah yang berair bersih. Bahkan beberapa ekor tampak asik membasahi dan membersihkan bulunya yang anggun. Sawah tersebut tampak belum dikerjakan seperti sawah-sawah lain yang sedang ditanami padi atau dibajak. Selain Dara Laut Tiram, di desa Geumpueng juga teramati 30 ekor burung jenis Cerek-cerekan (Charadrius spp.) yang juga diketahui merupakan salah satu jenis burung air migran. Saat teramati burung-burung ini sedang beristirahat dan lainnya mencari makan di areal sawah yang berlumpur.

Akhirnya, hari pun menjelang sore dan anak-anak terlihat mulai membantu orang tuanya di sawah. Usai membantu orang tua, belasan anak-anak ini menghampiri kami. Kegembiraan pun terpancar saat mereka menyapa dan bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Akhirnya mereka mengamati burung-burung bersama dengan menggunakan teropong.

  anak.jpg

Gambar 3. Beberapa anak sedang mengamati burung di sawah (foto : Agus Nurza)

Mengamati burung benar-benar kegiatan yang mengasikkan dan dapat menghilangkan stres ditambah lagi dengan suasana pedesaan yang jauh dari bising, sesak dan pengap oleh polusi udara, suasana hening, tenang akan membuat tubuh, jiwa dan pikiran kembali jernih dan fresh. Suara kicauan burung aneka rupa, gemericik air selokan yang mengalir di pinggir sawah, desir angin berhembus lembut serta sambutan hangat oleh masyarakat dengan penuh kekeluargaan. Semua ini dapat ditemukan di desa salah satunya di kecamatan Mutiara Beuruenun ini yang juga merupakan salah satu tempat persinggahan burung migran.