WORLD MIGRATORY BIRD DAY 2009

30 April 2009

Download Photo Kegiatan WMBD 2009

 

Hari Migrasi Burung Sedunia (World Migratory Bird Day) diprakarsai pada tahun 2006 sebagai salah satu upaya kampanye dan peningkatan kesadaran untuk melindungi burung migrasi dan habitatnya. Aktivitas pada Hari Migrasi Burung Sedunia ini dilakukan oleh kelompok atau organisasi diberbagai belahan dunia dengan menggelar bermacam kegiatan seperti festival, program pendidikan, wisata burung dan lain-lain.

Pada tahun 2008 yang lalu, Cicem Nanggroe mengadakan pengamatan burung migran bersama beberapa mahasiswa Universitas Syiah Kuala sebagai bentuk dari perayaan Hari Migrasi Burung Sedunia 2008. Mengingat tingginya minat peserta pengamatan pada tahun lalu Cicem Nanggroe kembali berpartisipasi dalam perayaan hari migrasi burung sedunia 2009. Kegiatan yang didukung oleh Fauna & Flora International Aceh Programme akan berlangsung selama 2 hari bersamaan pada hari Migrasi Burung Sedunia pada tanggal 9-10 Mei 2009.

Kegiatan-kegiatan yang akan diadakan antara lain :

  • Pelatihan spengamatan burung pantai
  • Praktek Lapangan Pengamatan Burung
  • Pemutaran Film Burung Migrasi

Peserta dari kegiatan ini berasal dari universitas yang ada di Banda Aceh ditargetkan  sebanyak 50 orang.  Diharapkan dari kegiatan ini, peserta dapat memahami peran ekologis burung migran dan hambatan-hambatan yang dapat mengganggu ekosistem. Selain itu peserta dapat berperan aktif dalam usaha pelestarian alam dan sebagai inisiasi terbentuk nya klub pengamat burung.

 

Apa yang di dapat??

-          T-Shirt

-          Snack

-          Sticker

-          Poster

-          Modul dan seminar kit

-          Makan siang

-          Gratis transportasi ke lokasi

-          Materi Pengamatan Burung

-          Ketemu burung migran kalo beruntung

-          Semua yang diatas gratis

 

Download Photo Kegiatan WMBD 2009


Mulai Mengepak Sayapmu Cicem?

1 April 2008

Mulai Mengepak Sayapmu Cicem?

By: T. Mohd. Sanir

06.30-07.30 (A.M)

Dari balik-balik kabut, menyeruak sebuah semangat yang tertancap di dada, menyala saat hari masih menggeliat malas. Masih pagi, tapi derap langkah optimis telah terbit di hati yang dituju. Akan lupakan sejenak hangatnya pembaringan, acuhkan udara dingin yang menyergap tubuh, mengejar pengalaman dan meninggalkan waktu bersantai-santai di hari libur. Bagi sebagian, mata masih sisakan perih karena kurang tidur, entah bagaimana nanti, kita tunggu saja.

Di mulai dari tragedi spirtus, beberapa kendala muncul, beberapa pelajaran tambahan didapat, dan setelah perjalanan berhenti di beberapa titik, akhirnya kami sampai ke tujuan dan ketinggalan seremonial pagi yang dikicaukan burung-burung. Perjalanan memakan waktu setengah jam, lalu bisa dipastikan jadwal pun bergeser. Tapi tempat ini masih indah seperti saat terakhir kami berkunjung, dan istimewanya hari ini kami bersama Rekan Cicem yang baru kepakkan sayap, yang katanya berani gila dan berani tantangan serta ingin meramaikan angkasa Aceh dengan keindahan.

08.00-09.00 (A.M)

Matahari mulai menghangat, sinarnya yang malu-malu muncul dari sela-sela rerimbun dedaun. Di sebuah tempat, kawasan Karst, sepuluh orang anak manusia memulai kedatangannya dengan seutas harapan yang membumbung bersama embun pagi yang menguap. Tanah becek masih sisakan hujan semalam, membentuk kolam-kolam kecil kopi susu. Air telaga berwarna hijau, terlihat kompak dengan gugusan hutan hijau keemasan tertimpa cahaya mentari. Sejuk, damai dan sangat tenang.

changeable-hawk-eagle-03.jpg

Dari sini, di mulailah cerita pengenalan alat, baik monokuler ataupun binokuler, pembagian buku panduan pengamatan serta pengenalan medan, lalu siap-siap beraksi. Sambutan pertama datang dari Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) yang berdiri gagah pada dahan sebatang pohon. Sepertinya burung ini sengaja pamer, soalnya baru saja penjelasan tentang penggunaan alat-alat pemantauan burung selesai diberikan, tanpa diminta Ia langsung menawarkan diri sebagai objek peraga. Terus tanpa menunggu waktu lama langsung saja binokuler membidik sasaran, tripod tergelar dan monokuler di pajang, tak ada kesempatan yang terlewat. Nah, kebetulan Elang Brontok yang kami jumpai pada kesempatan ini adalah sedang dalam fase morfologi terang.

09.00-12.00 (A.M)

Hutan terus memanggil serta menarik kami kedalam, sibak belukar dan ranting yang menghalang. Dan suara burung-burung adalah penuntun jalan, Aku tidak mengatakan ini sebagai sesuatu yang buruk, karena yang kurasa kelihatannya cuma ingin menguji nyali kami. Burung-burung yang ditemukan dicatat; baik itu nama, waktu, tempat ditemukan dan tingkah laku. Tetapi, lama-kelamaan gurat-gurat tanda tanya mulai muncul di kening kepala. Adakah ini pertanda ketidak-mengertian. Benarkah seperti ini rasanya? Apakah serumit ini caranya? Iya, tapi hey, nikmati saja saat-saat seperti ini, kesempatan begini tak datang sering-sering. Benar ini melelahkan, tapi senyum masih terlihat di wajah rekan cicem meskipun samar. Total kurang lebih tiga jam bermain didalam hutan yang lebat. Kadang mesti menembus semak belukar berduri, kadang mesti masuk kedalam rawa-rawa berwarna teh, untung ada yang mengingatkan jangan diminum, kalo nggak, wah segar nih…! Lengkap, seru, berkeringat dan gatal.

Perjalanan menyusuri sungai adalah perjalanan terpanjang, karena sungai ini bercabang-cabang. Beberapa ekor Cekakak terlihat mondar-mandir, memanggil-manggil temannya. Sepertinya dari jenis Cekakak Sungai (Halcyon cloris), dan Cekakak Cina (Halcyon pileata) sementara si Elang Brontok sedang asyik ber-thermal soaring, tuh di atas sana, sesekali suaranya kelihatan menyayat angkasa, perih! Terus kami berjalan sampai tembus ke sebuah Desa, dan masyarakat di situ menatap heran saat kami melintas, kami tetap tersenyum sebisa mungkin walau bino dan mono kelihatan menyolok. Sempat juga bercakap-cakap dengan salah seorang penduduk setempat meski sebentar.

12.30 -03.15 (P.M)

Seksama kami mendengarkan ada yang berdendang, bukan di hutan, bukan di angkasa, sepertinya ini berasal dari dalam perut kami. Dendang irama keroncongan, sudah waktunya makan siang, dan saatnya kami kembali. Perjalanan pulang adalah khayalan dan angan-angan, ingin sampai sesegera mungkin dan langsung menyantap makanan yang ada. Terus, ada yang kepikiran masak nggak? Apa yang diharapkan benar-benar terjadi, kami lapar dan harus masak. Ada yang mau nasi kaleng? Kalau tidak ambil mie instan saja.

Makan siang dan diskusi di sertai dengan obrolan ringan dan di selingi oleh canda tawa, benar-benar kesan indah penuh keakraban yang terjalin. Semua senang dan gembira, itu yang nampak di luarnya, dalamnya hati siapa lah tahu, tapi semoga saja tidak demikian ya? Selanjutnya pemberian materi navigasi dan manajemen kemping. Untuk seorang Birdwatcher hal ini penting, karena tanpa mengetahui dasar navigasi dan manajemen kemping yang baik, bisa di pastikan pengamatan yang dilakukan tidak optimal hingga dapat menimbulkan masalah dan kendala yang serius.

dsc03497.jpg

03.30-06.00 (P.M)

Waktunya memeriksa paspor burung migran, mana tahu ada yang izin tinggalnya udah habis dan harus segera di deportasi. Setelah mengemasi barang-barang dan peralatan, kami bergegas meninggalkan lokasi ini. Perjalanan selama lima belas menit lalu sampailah kami pada sebuah kawasan pantai. Laut di arah depan, dan areal pertambakan di bagian belakang, dengan jalan yang melintas di tengah-tengahnya. Kami beruntung karena saat itu sedang pasang surut, jadi kemungkinan adanya burung-burung pantai besar sekali. Tiap-tiap pasang mata Rekan Cicem tampak antusias menjelajahi tiap tempat, dan pucuk dicinta ulam pun tiba!

rame.jpg

Cerek Pasir Mongolia (Charadrius mongolus), Cerek Pasir Besar (Charadrius leschenaultii), Trinil Pantai (Tringa hipoleucus), Cekakak Sungai (Halcyon cloris), Kuntul Karang (Egretta sacra), Kuntul Besar (Egretta alba), Kuntul Kecil (Egretta garzetta) dan Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster) teramati. Untuk jenis mongolian plover sudah ada yang memperlihatkan karakter warna bulu breeding. Memang sudah masuk musim berbiak, tetapi mangapa masih berada disini? Satu pertanyaan menarik, lebih menarik lagi jika mereka berbiak di sini.

cerek-pasir-mongoliacerek-pasir-besar.jpg

06.15 (P.M)

Langit di barat mulai memerah, laut masih menggulung ombak. Ini tempat yang sama seperti pada liputan kami tentang Kuntul Karang (baca liputan lengkapnya di Gelombang Yang Berbisik Pada Karang). Tetapi karena kami memang berencana melakukan pengamatan burung pantai, maka tempat ini kami masukkan sebagai daftar tempat yang wajib untuk dikunjungi.

Kami telah merasakan momen yang luar biasa hari ini. Kenangan-kenangan ini akan mengendap di kepala untuk waktu yang lama. Semua kesenangan, tantangan, bahkan keringat yang keluar adalah lukisan jiwa yang bahkan Da vinci pun sulit untuk melukisnya. Setelah satu jam disini, kami bergerak lagi. Tetapi kali ini adalah bergerak pulang ke kediaman masing-masing. Bersama letih, penat, gembira, dan pengalaman indah yang akan kami bawa menjemput mimpi nanti malam. Selamat bermimpi indah, esok hari kita ulangi lagi perjalanan seperti ini.


Risalah Angin Semilir

13 Maret 2008

Risalah Angin Semilir

Oleh: T. Mohd. Sanir

Angin berhembus, pada gesek ilalang dan dedaun yang bergoyang dalam iringan khidmat. Datang dari timur, titipkan pesan semerbak bunga yang mekar di musim semi. Tapi angin datang tak tentu, kadang pelan menghanyutkan, kadang kencang menghempas, sesekali diam tak beranjak. Seperti kehidupan ini jua, bosan sering hinggap saat pikiran buntu, semangat muncul kala embun pagi menggeliat. Kurasa hidup ini indah, sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja.

Pucuk-pucuk nyiur hijau melambai pelan saat kami kembali menekuri jalanan. Sebelumnya, rekan Cicem sempat bosan dan terpekur karena tidak ada bola lampu yang menyala di kepala. Sekitar sepuluh menit perjalanan, seorang rekan Cicem berteriak-teriak sambil mengacungkan telunjuknya ke angkasa. Dua ekor raptor yang diduga Elang Alap terbang berputar. Kami mencoba melihat lebih dekat dengan binokuler, sayang si raptor keburu pergi. Yang tampak hanya sekilas siluet hitam yang menjauh dan menghilang di udara biru bercampur putih. Kami bergerak lagi, mendekati ke arah terbangnya si raptor. Tak ada yang terlihat, lima menit kemudian kami berhenti untuk mendengarkan lantunan tembang syair burung yang bersahutan. “Cucak Kutilang” (Pycnonotus aurigaster) sedang bertengger berpasangan di atas sebuah pohon.

cucak-kutilang.jpg
(gambar Cucak Kutilang)

Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat dan jika memungkinkan cukup hanya mengambil gambar doang. Itu saja. Tetapi, siapa sih yang tidak risih jika saat-saat bercumbunya menjadi tontonan pihak lain. Terlebih untuk orang yang suka nenteng-nenteng kamera dengan senyum-senyum simpul. Belum selesai monokuler terpasang, belum sempurna senyum terkembang, eh.., yang seekor udah ngacir duluan dan hilang di dalam semak. Untuk satu yang tertinggal, jangan tanya deh gimana paniknya sang fotografer. “Jepret-jepret-jepret…!” Bahkan nyaris kesurupan bagaikan seorang prajurit yang membabi-buta memuntahkan pelurunya di tengah kepungan musuh. Oh, walah….! Tapi tenang saja, si fotografer dapat kok foto berpasangannya dalam kesempatan lain. Setelah cukup lama menekuni si Cucak Kutilang, di langit puluhan burung-burung kecil tampak terbang bergerombol. Diantara yang terbang tersebut beberapa di antaranya ada yang membawa sejenis rerumputan di paruhnya. Apakah untuk sarang?

baya-weaver-nest.jpg

(gambar pohon kelapa sarang Manyar Tempua)

“Ada yang aneh dari pohon kelapa itu!” Seru salah seorang rekan Cicem. Dari kejauhan terlihat bagai buah kelapa yang tergantung pada pelepah daun. Terhitung lebih dari 30 sarang manyar yang terdapat pada satu pohon. Sarang yang indah, bagi mereka burung-burung “Manyar Tempua” (Ploceus philippinus >› Baya Weaver) yang hidup berkoloni dan bekerja sama dalam membangun sarang. Di Aceh burung ini dikenal dengan nama Mirik. Mereka tak berhenti berkicau dengan suara “cicit-cicit” yang cepat. Sarangnya seperti kue karah (penganan khas Aceh) untuk yang sudah tua dan berwarna coklat. Tersusun atas anyaman rumput-rumputan dan ilalang, dengan dua helai daun kelapa sebagai pondasinya, tetapi hal ini lebih jelas terlihat pada sarang yang muda dan masih berwarna hijau. Sebentar-sebentar terbang, lalu kembali dengan rerumputan di paruhnya. Belum selesai sarang yang satu, eh.., sudah mengerjakan sarang yang lain. Lalu beradu argumen, hingga saling pukul karena rebutan sarang. Ada-ada saja, untung saja tidak seperti dalam aksi Hollywood yang menggunakan senjata api dan bahan peledak. Kalau sampai terjadi, wah.., seru!

baya-weaver.jpg

(gambar Manyar Tempua)

Kami bersyukur atas kesempatan ini, melihat burung-burung bercengkrama di alam bebas. Tanpa sangkar, tanpa belenggu. Tapi, masihkah ada kesempatan bagi anak-cucu kita merasakan hal yang sama? Terlebih maraknya perburuan dan penangkapan burung untuk kesenangan semu makin marak. Semoga saja masih tersisa orang-orang yang peduli di luar sana, karena punahnya satu satwa bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Kita bersama yang melakukan, kita bersama yang bertanggung-jawab atas dampak perubahan lingkungan.

Cuaca cepat berubah, seperti suasana hatiku, maka langit perlahan telah di penuhi awan kelabu. Hujan berkabut datang dari selatan, waktu merangkak, dingin merangsek menyergap jiwa. Terkurung dalam bangunan ruang, yang diam tak bercerita. Lalu mengapunglah romantisme kerinduan tentang rumah berirama sendu. Kami ingin pulang! Tak peduli meskipun hujan membasahi tubuh dan hati kami. Sejenak sebelum melangkahkan kaki menjemput hujan, terasa semilir angin mengelus wajah kami. Sejuk dan kaku…! Dengar dan diam saja. Biarkan risalah angin semilir datang dan berlalu. Ambil yang kau perlu, tinggalkan yang tak berguna.


Gelombang Yang Berbisik Pada Karang

2 Maret 2008

T. Mohd. Sanir

 

4451.jpg


Sebut saja daerah ini sebagai tempat yang tenang dan indah. Sebuah perkampungan yang dikelilingi laut dan gadis-gadis yang sedang berbaring dengan gaun hijau. Sementara di pantai beberapa pohon mati sedang mementaskan satu babak terakhir dari drama kehidupan. Kami cuma penonton, yang datang terlambat saat tirai hari akan di tutup. Laut bersenandung, jika ini iringan puji dan syukur kepada Tuhan, sungguh kami ingin ikut serta.

Sore yang cerah, saat kami kembali menjelajah. Seperti biasa, peralatan lapangan untuk pengamatan selalu setia menyertai tiap langkah. Tak ada yang istimewa, malah kelihatan sepi, buruan yang kami cari tidak kelihatan, “mungkin nanti, sebentar lagi” desis salah seorang rekan Cicem. Ya, kesabaran adalah buah yang manis, kami terus menekuni binokular dan memancang tripod yang diduduki monokular hingga apa yang kami cari datang. Seekor Kuntul Karang kelihatan sedang mencari makan di sela-sela pasir saat laut sedang surut. Walaupun yang tampak cuma seekor tetapi kami cukup puas, terlebih setelah berhasil mengabadikannya dalam bingkai kamera. Kuntul Karang ini sangat bersemangat, sampai-sampai tak lama kemudian terbang mendekati rekan Cicem yang sedang serius mengamati. Mungkin ia tak merasa terganggu dengan kehadiran kami, walaupun kami sempat kaku dan grogi dengan keakraban yang cuma sekitar lima meter ini. Selanjutnya rekan Cicem kembali bergerak menyusuri pantai, hingga bertemu dengan dua ekor kuntul karang lainnya yang sedang mencari makan di atas karang. Tempat yang menakjubkan sekaligus mendebarkan bagi kami. Bayangkan, kami harus turun dari lereng yang curam untuk melihat si kuntul karang ini. Yang seekor bergerak lincah mencari makan di antara karang-karang cadas, sementara temannya yang satu lagi hanya terpaku menatap laut, entah apa yang dipikirkannya.

copy-of-dsc02433.jpg

Informasi umum Kuntul Karang;

Nama Latin : Egretta sacra

Nama Indonesia : Kuntul karang

Nama Aceh : Kuk kareung/Kuk itam, Enggang kareung

Nama Inggris : Pasific reef-heron, Reef heron

Taksonomi :

- Kerajaan : Animalia

- Filum : Chordata

- Kelas : Aves

- Ordo : Ciconiiformes

- Family : Ardedae

- Genus : Egretta

- Spesies : E. sacra (Gmelin, 1789)

dsc02436.jpg

Status: Least Concern, Ukuran tubuh 57-66 cm, Berat rata-rata 400 g, Rentang sayap 90 sampai 110 cm, Musim berbiak mulai dari September ke Januari, tetapi dapat berbiak sepanjang tahun, Jumlah telur dua sampai tiga dengan warna bintik biru-kehijauan, masa Inkubasi 28 hari, Waktu didalam sarang 40 hari.

Kuntul Karang tersebar hampir seluruh tempat di Asia, termasuk India, Asia Tenggara, Jepang, Polinesia, Australia, Tazmania dan Selandia Baru. Terdapat dua morfologi warna pada burung kuntul karang ini. Pada bentuk putih; tubuh dan sayap putih, paruh kuning-kelabu, bagian muka kuning-kehijauan dan pada bagian kaki berwarna kuning suram. Pada bentuk gelap (paling umum); tubuh dan sayap ditutupi oleh warna hitam kelabu, dengan coretan putih kecil di bagian tenggorokan. Ukuran tubuh lebih besar dari kuntul kerbau, tetapi paruh dan tubuh lebih ramping. Ditemukan di daerah pantai berkarang, mencari makan dan membuat sarang di atas tanah pada tumpukan karang atau di daerah antara mangrove dan palem. Ketika berbiak, sarang tersusun oleh ranting dan dedaunan. Makanannya terdiri dari ikan, crustacea dan molusca.

Langit beranjak gelap, gelombang laut telah berbisik pada karang dan membisikkan kepada kami agar segera pulang. Saatnya berkemas dan beranjak pergi, tentu saja dengan senyum yang terkembang dan ucapan berterima-kasih atas keramah-tamahan yang kami rasakan. Esok hari jika tuhan mengizinkan kami akan kembali.


Langit Kelabu di Ujung Matamu

18 Februari 2008

(T. Mohd. Sanir)

Dalam beberapa hari belakangan ini, matahari sedang garang-garangnya bersinar di Banda Aceh. Hal ini sangat kontras dibandingkan dengan beberapa tempat lain di tanah air yang sering hujan. Indikasi pemanasan global yang mempengaruhi musim? Mungkin saja, tetapi kegiatan mendongakkan wajah ke langit belum berhenti, bukannya memperhatikan gugusan awan dan mengharapkan hujan datang, tetapi lebih sering memperhatikan burung yang sedang melintas. Seperti pada satu sore yang berawan (kupikir hujan akan datang), tampak burung layang-layang terbang di angkasa. Cukup menarik dan penuh aksi akrobatik, sungguh mereka membuatku iri. Andai manusia dapat terbang, mungkin saja ketergantungan akan bahan bakar akan sedikit berkurang. Tetapi kehidupan sudah seperti itu adanya, semua memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Bukankah sudah jelas bahwa manusialah yang menciptakan kerusakan di muka bumi. Bukan saatnya untuk bersedih atau  menyesali diri, lebih baik berbuat sesuatu dan memperbaiki apa yang salah.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-05.jpg

Gambar 1. Raptor jenis Elang Kelabu (Butastur indicus)

  Saat sedang asyik melihat burung layang-layang, plus imaji-imaji kecil yang menari di relung kepala, nun diseberang sana, di atas dahan pohon kelapa terlihat seekor burung elang. Dari hasil identifikasi bareng rekan Cicem Nanggroe, sepertinya ia adalah burung pemangsa jenis Elang Kelabu (Butastur indicus). Hanya seekor, tetapi matanya awas melihat kekiri-kanan mencari mangsa. Tidak Cuma mengamati keadaan disekitarnya, tetapi juga mengamati kami, seolah ia tahu kalau sedang di pantau. Untung saja ia tak merasa jengkel hingga akhirnya terbang, atau lebih parah lagi sampai melapor ke KOMNAS-HAM karena telah mengganggu privatisasinya. Elang kelabu atau inggrisnya Grey-faced Buzzard adalah elang yang berukuran sedang, kurang lebih 45 cm, berwarna kecoklatan dengan warna strip putih yang jelas di bagian alis, paruh berwarna hitam dengan sere kuning, iris mata kuning terang, garis hitam vertikal di daerah tengah kerongkongan, dada dengan garis coklat kemerahan dan putih sampai ke bagian bawah, punggung kecoklatan dan di bagian ekor terdapat strip hitam dan putih. Penyebaran globalnya berbiak di Asia timur laut, pada musim dingin ke selatan sampai Asia tenggara. Sedangkan penyebaran lokalnya, termasuk pengunjung musim dingin atau pengembara di daerah Sunda besar, Kalimantan bagian utara dan Sumatra (MacKinnon dkk., 1995).

 Elang kelabu merupakan jenis burung pemangsa atau raptor, di alam jenis-jenis raptor adalah indikator bagi keseimbangan alam. Sebagai pemangsa puncak pada piramida makanan, adanya raptor tentu saja menunjukkan keadaan lingkungan yang baik dan stabil. Terlebih lagi Elang kelabu termasuk jenis raptor migran atau pengembara, tentu saja ia tidak sembarangan memilih tempat menetap sementara seandainya di tempat tersebut tidak menyediakan makanan yang cukup dan keadaan alam yang mendukung untuk hidup. Bukankah tujuannya melakukuan migran adalah sebuah pilihan untuk bertahan hidup. Yah, walaupun masuknya secara diam-diam dan tak melapor ke kantor urusan imigrasi, tetapi fenomena burung raptor migran sungguh menarik untuk di amati dan di bahas. Sejak kapan ia datang dan sampai kapan visa menetapnya akan berakhir merupakan hal yang tak dapat di pisahkan dari pengaruh musim. Selama tujuannya datang kemari untuk maksud yang baik, apa salahnya jika kita menjadi tuan rumah yang santun. Tidak mengganggu, tidak menembak, tidak menjerat, atau mempersulit izin tinggal sementaranya di Nanggroe Aceh Darussalam. Jika hal ini bisa tercapai setidaknya kita harapkan dapat menjadi promosi gratis sampai ke luar negeri bahwa Aceh merupakan negeri yang mempesona dan mengangumkan, plus bonus banyak kadal dan tikus beraroma tropis di sini. Ibaratnya terpuaskan lewat mata (wisata panorama) dan terpuaskan lewat lidah (wisata kuliner), tapi promo ini khusus raptor saja lho.

 

grey-faced-buzzard-butastur-indicus-04.jpg

Gambar 2. Elang Kelabu sedang bertengger di pohon kelapa

Tetapi sore itu bukanlah pertemuan kami yang terakhir, beberapa hari setelahnya kami berjumpa kembali, walau bukan di tempat yang sama dan dalam gelombang yang serupa. Kali ini dengan efek yang lebih menarik dan dramatis. Pada jarak sekitar 15 meter, si elang kelabu yang bertengger di sebatang pohon mati sedang mencengkram seekor tikus dengan kakinya, lalu sejurus kemudian mencabik dan mulai menyantap daging tikus dengan lahapnya. Aku dan dua orang rekan Cicem Nanggroe mencoba mendekat, hanya beberapa detik untuk kemudian raptor ini terbang ke pohon kelapa dengan jarak yang sudah tidak optimal lagi bagi binokuler. Sayang memang momen ini tidak sempat terekam. Tapi ya sudahlah tak mengapa,mungkin saja ia tipe raptor yang tak nyaman di perhatikan saat sedang makan. Bukankah tiap makhluk memiliki karakteristik yang berbeda-beda? Alangkah menjemukannya hidup seandainya semua makhluk sama dan setipe, ada yang mengatakan bahwa perbedaan itu indah dan menerima dan menyatukan perbedaan adalah hal yang paling indah. Aku dan rekan Cicem Nanggroe pun berlalu dari tempat tersebut, sebenarnya hari itu kami bukan dalam tugas pemantauan, tetapi tetap saja jika ada burung dari jenis apapun dan kelihatan menarik untuk dibahas dan berbagi informasi, sungguh kami takkan sungkan mengenyampingkan urusan lain. Mungkin saja ini hobby, mungkin juga semacam panggilan jiwa, tapi jelas lebih baik dari pada kami diam dan tak berbuat sesuatu apapun untuk hal yang kami senangi. Banyak yang sayang sama burung, banyak yang mengaku-ngaku cinta sama burung, tetapi apakah cinta yang dimaksud adalah dengan cara menempatkan burung di dalam sangkar? Aku rasa hal ini adalah buah dari keegoisan manusia itu sendiri, bukankah cinta yang seutuhnya itu adalah cinta yang berasal dari kedua belah pihak? Tak ada unsur paksaan, bukan untuk di eksploitasi, juga bukan untuk selalu di pingit. Emang ini zaman Siti Nurbaya?

 Lama aku tak melihat lagi si Elang Kelabu, hingga pada hari minggu ke tiga di bulan Februari ini, di sebatang pohon kelapa, persis hampir serupa seperti saat pertemuan pertama kami. Tampak ia bertengger di dahan dan menatap ke arahku, tetapi tidak melirik ke kanan-kiri. Tidak awas, tidak waspada. Sepertinya ini titik-titik terrapuh dalam hidupnya, apakah karena cinta kami yang harus segera berakhir karena ia mesti kembali ke tanah kelahirannya? Aku tidak berani mengiyakan, tidak juga berani menggelengkan kepala. Tetapi sore itu aku melihat langit kelabu di ujung matanya. Perjalanan jauh menanti, bekal makanan yang memadai, istirahat yang cukup dan selamat jalan, sampai bertemu kembali jika ada umur panjang.


ELANG BONDOL MENUNTUT ILMU DI JANTOENG HATEE RAKYAT ACEH

8 Februari 2008

Oleh : Husnu Rijal

(http://bwsnour.co.cc)

 

Elang bondol (Haliastur Indus) merupakan salah satu jenis burung pemangsa (Raptor) yang sangat gagah, sering mengunjungi daerah rawa, sungai, muara, pesisir pantai dan kepulauan hingga daerah dengan ketinggian sampai 2800-3000 mdpl. Di Jakarta, elang ini ditetapkan menjadi maskot ibukota sejak tahun 1989. Umumnya burung ini terdapat di Sumatera, Kalimantan. Pada daerah Jawa & Bali  saat ini sudah jarang ditemukan. Di Jakarta, terdapat di Cagar Alam Pulau Rambut, diperkirakan tinggal 10 ekor (http://www.iwf.or.id/elangbondol.html).  Meski bukan burung migran antar benua, penyebaran elang bondol juga ditemukan di India, Cina Selatan, Filipina, Australia dan juga di beberapa negara lainnya.

Elang bondol berukuran panjang sekitar 45-52 cm, dengan lebar sayap 110-125 cm, panjang ekor 18-22 cm. Elang bondol memiliki warna putih dengan coretan hitam vertikal dari kepala, leher sampai perut dan coklat kepirangan pada bagian atas sayap sampai ekor. Perbedaan antara burung muda dengan dewasa adalah ujung ekornya bundar bukan menggarpu. Iris coklat, paruh-sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram. Pekikannya mengelih dan mengeong-ngeong “syii-ii-ii” atau “kwiiaa”.

 

elang-bondol-03.jpg

  Gambar 1 : Elang Bondol yang sedang bertengger di pohon cemara laut (Photo: Agus Nurza)

 

 

Elang bondol  memiliki kebiasaan terbang melayang-layang sambil mengintai mangsanya dari atas dan jika mangsanya sudah terlihat maka elang bondol akan langsung terbang menukik untuk menangkap mangsanya. Selama musim kawin (November-Desember), elang bondol sering melakukan akrobatik di udara untuk menarik perhatian pasangan baik di dekat pasangannya maupun di dekat sarangnya (http://www.naturia.per.sg/buloh/birds/Haliastur_indus.htm). Elang bondol memanfaatkan pohon-pohon besar dan tinggi untuk membangun sarang dan menggunakan ranting-ranting pohon yang disusun rapi. Elang bondol bertelur 2-3 butir telur (http://wongsuro.multiply.com/journal/item/2).  Beberapa diantaranya memanfaatkan pohon yang sudah mati (barang kali pohon itu masih hidup ketika pertama kali raptor tersebut membangun sarang).

Di Nanggroe Aceh Darussalam elang bondol selama ini terlihat di Kampus Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh pada saat pengamatan raptor yang dilakukan oleh Pengamat Burung Aceh “Cicem Nanggroe” pada bulan Januari 2008, sepasang Elang bondol terlihat sedang bersarang di pohon cemara laut (Casuarina equisetipholia) pada ketinggian ± 35 m dari tanah. Di Singapura, raptor tersebut juga pernah diamati membangun sarang pada pohon cemara laut, sarang jantan dengan betina dibangun terpisah pada pohon lain pada jarak 100 m. Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat burung Aceh “Cicem Nanggroe” hanya terbatas pada pagi hari, hal ini untuk menghindari perhatian orang-orang yang ingin memburu atau menangkap raptor tersebut.

Sebenarnya, pemantauan raptor jenis bondol ini relatif mudah yaitu dengan mengunjungi lokasi-lokasi yang telah direkomendasikan seperti cagar alam, taman nasional, dan masih banyak lagi, kemudian mencatat hasil dari pemantauan tersebut melingkupi jumlah individu atau jumlah raptor tersebut dan jenisnya serta tingkah laku raptor tersebut. Akan tetapi, bagi pemula hal ini sulit dilakukan khususnya cara-cara identifikasi dan menghitung jumlah raptor.

 elang-bondol.jpg
Gambar 2 : Elang Bondol yang sedang membangun sarang (Photo: Agus Nurza)

Pengamatan raptor memiliki keunikan tersendiri dan bisa digolongkan dalam kategori sulit. Kesulitan tersebut pertama disebabkan oleh jarak pemantau dengan raptor umumnya jauh (150 meter sampai 1 km). Kedua, hampir seluruh jenis raptor memiliki warna yang sangat monoton yaitu hitam, putih dan kelabu atau coklat. Jadi, membedakan diantara seluruh jenis raptor hanya corak dari perbedaan letak warna tersebut, atau perbedaan totol dan garis-garis pada seluruh anggota badan raptor tersebut. Dan hal yang paling sulit lagi yaitu pada saat terbang, dimana hampir seluruh tubuhnya bernuansa hitam dan putih (kalau menentang matahari, hanya bernuansa silau atau hitam saja). Cara membedakannya hanya berupa bentuk keseluruhan tubuh raptor tersebut dan melihat ciri khas dari bentuk raptor tersebut misalnya ciri khas ekor, cara terbang, panjang leher dan proporsi anggota badan. Cara ini biasanya dilakukan oleh pemantau-pemantau yang telah berpengalaman.

Bagi beberapa pengamat burung, efektivitas waktu pengamatan raptor kadang-kadang tidak tentu, akan tetapi pengamat burung Cicem Nanggroe untuk melakukan pengamatan raptor lebih memilih pada waktu pagi hari sampai siang hari (hal ini untuk menghindari perhatian dari para pemburu/birdhunter). Penentuan waktu ini berdasarkan pengalaman pemantauan saja. Alat-alat yang perlu disiapkan termasuk monokuler dengan bantuan tripod, binokuler, buku panduan lapangan dan buku catatan.


 


PEMANGSA DISEKITAR KITA

1 Februari 2008

Oleh : Ricko Laino Jaya

(Cicem Nanggroe)

Elang merupakan salah satu jenis burung yang dikenal sebagai pemangsa, layaknya harimau di darat, elang disebut sebagai raja angkasa. Elang dalam hidupnya terbiasa menyendiri untuk memudahkan berburu secara diam-diam, kecuali pada musim kawin.

Sebenarnya ketertarikan manusia pada elang sudah dari jaman dulu, contohnya pemimpin suku-suku di Indian memakai bulu elang sebagai aksesoris dari lambang kebesaran. Bahkan pada beberapa negara, elang dipakai sebagai simbol atau lambang dari negara tersebut. Indonesia sendiri menggunakan burung mitos Garuda yang merupakan nenek moyangnya Elang Jawa (Javan Hawk Eagle-Spizaetus bartelsi) sebagai lambang negara. Sampai sekarang elang terus dipelajari keunikkannya oleh ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu dan beberapa dari keunikkan raja angkasa ini diadaptasi dalam teknologi manusia.

Salah satu kelebihan dari elang adalah kemampuan manuvernya yang luar biasa. Mungkin kita pernah melihat elang terbang berputar-putar ditempat, dan kita berpikir bahwa ia sedang mengintai mangsa. Sebenarnya hal ini dilakukan selain mencari ketinggian optimal sebelum menerkam mangsa atau juga sedang menghemat tenaga untuk terbang dengan memanfaatkan gelombang panas bumi dan saluran udara yang tercipta.

Untuk lebih mengenal elang, selain membaca dari buku-buku, juga bisa dilakukan dengan cara pengamatan langsung (birdwatching). Kegiatan mengamati burung seperti elang adalah kegiatan yang mengasyikkan. Mulai dari cara terbangnya yang anggun, cara memangsanya yang cepat dan mematikan, hingga aktivitas bersarang dan berkembang biaknya. Terkadang kita bisa menemukan hal yang menarik dari pengamatan burung ini. Misalnya pengalaman kami yang dimulai sejak awal Januari sewaktu mengamati burung di daerah Darussalam. Selain menemukan Elang Bondol, kami juga menemukan salah satu jenis elang migran. Semula kami menduga ini adalah Elang Alap China (Accipiter soloensis). Untuk membantu identifikasi, kami mengirim photo burung tersebut ke sebuah forum pengamat burung di Indonesia.

upload.jpg

Menurut hasil identifikasi beberapa pengamat burung Indonesia, burung ini adalah jenis Shikra (Accipiter badius). Shikra berukuran 26-30 cm dan mempunyai sayap lebar dan pendek serta ekor yang panjang. Keduanya diadaptasi untuk manuver cepat sewaktu terbang didaerah dengan formasi semak dan hutan yang rapat. Shikra tersebar daerah selatan Asia dan sub-sahara Africa, tiap tahun membuat sarang pada pohon dan biasanya bertelur 3-7 butir tiap tahunnya. Shikra memang termasuk burung migrasi dan tidak mengherankan apabila Shikra terlihat di Aceh. Mungkin saja Aceh termasuk jalur migrasi burung tersebut. Tapi yang menarik adalah dalam beberapa hari pengamatan, kami menemukan bahwa beberapa pasang Shikra sedang membuat sarang pada pohon cemara. Sebelumnya belum terdapat catatan tentang burung Shikra yang berkembang biak di wilayah Aceh. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar karena pada umumnya burung migrasi hanya membuat sarang di daerah asalnya. Sarang ini dipersiapkan untuk mulai berkembang biak. Dan burung migran tercatat selalu berkembang biak di daerah asalnya. Ada apa dengan daerah asalnya? Dan kenapa Shikra berkembang biak di Aceh? Untuk menjawab pertanyaan ini, rasanya kami perlu melakukan pengamatan dan pemantauan lanjutan. Semoga saja apa yang kami perkirakan akan terjadi dan burung ini menjalani breeding di Aceh. Siapa tahu…?


PEMBURU MENYERANG SAAT PENGEMBARA DUNIA DATANG

24 Januari 2008

Oleh : Agus Nurza, T. Mohd Sanir, dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Sebelumnya perlu kami perjelas bahwa Pengembara disini bukan ditujukan kepada orang-orang pengembara yang sedang melakukan perjalanan melintasi Aceh. Pengembara yang dimaksud adalah burung migran yang diketahui menempuh perjalanan ribuan mil setiap pergantian musim. Pernah terlihat di pantai Banda Aceh tetapi belum memberikan informasi yang cukup memadai. Terkadang keberadaan mereka tidak terpantau dan kurang mendapat perhatian seperti burung endemik yang terancam punah. Hal ini terjadi di pelbagai tempat di Indonesia, tetapi sejak kasus flu burung merebak, burung liar terutama jenis burung migran yang bebas keluar-masuk ke suatu wilayah tanpa harus menggunakan surat izin tertentu, memiliki peranan yang penting malah dianggap menjurus ke arah yang membahayakan.

Di dunia saat ini pemanasan global merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Faktanya, setiap tahun terjadi peningkatan suhu di seluruh dunia. Burung-burung migran termasuk jenis satwa yang sangat peka terhadap situasi ini, perubahan musim yang datang terlalu cepat mengakibatkan perubahan pada perilaku mereka. Mereka dapat melakukan migrasi terlalu cepat atau bahkan terlalu lama tergantung perubahan musim yang akhir-akhir ini menjadi semakin tak menentu. Sebelumnya, Aceh belum diketahui termasuk ke dalam garis lintas migrasi burung-burung migran. Tetapi terjadinya perubahan keadaan dan lingkungan mungkin termasuk faktor yang menjadi pemicu terciptanya situasi ini.

Suatu pengamatan terhadap burung-burung air migran yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar telah dilakukan yang dimulai pada bulan September 2007 dan berakhir pada bulan November 2007. Wilayah yang diamati adalah wilayah tambak dan pesisir pantai yang secara umumnya merupakan areal pertambakan dan hutan pantai yang sedang dalam tahap pertumbuhan setelah hancur akibat bencana tsunami.

Burung air migran yang teramati di Banda Aceh dan Aceh Besar adalah burung Gajahan Besar (Numenius arquata), Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis), Biru Laut Ekor Blorok (Limosa lapponica), Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil (Tringa spp.), Kedidi Belang (Calidris alpina), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cerek Kalung Besar (Charadrius hiaticula), Cerek Kalung Kecil (Charadrius dubius), dan Cerek (Charadrius spp.).

Burung air migran sering dijumpai di lokasi berbeda, diantaranya area pertambakan dan pesisir pantai di Desa Krueng Cut, Tibang, Jeulingke, Deah Glumpang, Neuheun, Lam Nga, Ujong Batee, Ladong, dan Krueng Raya dimana daerah ini merupakan bagian pesisir pantai utara Banda Aceh – Aceh Besar yang secara topografi wilayah-wilayah tersebut masih dalam satu garis pantai utara Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebelum Tsunami terjadi kawasan pengamatan ini merupakan habitat burung air yang baik karena pada kawasan ini masih dijumpai komposisi vegetasi yang lengkap dan rapat, meskipun banyak lahan mangrove dialih-fungsikan untuk lahan tambak. Tambak yang dikelola secara perorangan cenderung menggunakan sistem tambak empang parit yakni hanya bagian pinggiran yang dimanfaatkan untuk budidaya dan dibagian tengah tetap ditempati manggrove. Cara yang demikian menguntungkan bagi kehidupan burung seperti yang pernah terlihat di daerah Jeulingke, Neuhun dan Ladong, terutama dalam pemantauan predator dan memudahkan burung dalam mengintai pakan. Meskipun kehidupan burung tidak terganggu secara ekologis tetapi burung-burung tersebut mengalami gangguan dari manusia.

Kawasan ini sedang dalam proses pemulihan. Memang sudah hampir semua daerah telah ditanami pepohonan mangrove, akan tetapi struktur ekosistem pantai belum pulih secara sempurna. Butuh waktu lama untuk mencapai kondisi yang ideal dan sesuai seperti dahulu. Sampai sekarang keadaan kawasan ini masih memprihatinkan. Berbagai ancaman saat ini mulai terlihat, seperti banyaknya sampah yang dibawa oleh aliran sungai di dekatnya. Sampah-sampah non-organik tentu saja membahayakan burung-burung tersebut. Keadaan ini diperparah dengan adanya aksi pengambilan dan perburuan terhadap sarang burung-burung. Padahal Burung air juga merupakan salah satu atribut kunci dari keanekaragaman pada kebanyakan lahan basah, dan komponen kuantitas dan kualitas dari burung air adalah landasan yang digunakan untuk identifikasi pentingnya lahan basah.

 
hunter1.jpg

Gambar 1. Pemburu burung air di kawasan Deah Glumpang Banda Aceh (foto : Agus Nurza)

 
Sang Pengembara dunia ini juga disambut hangat dengan peluru-peluru senapan. Saat pengamatan dilakukan tak jarang berbagai tempat pengamatan dijadikan sebagai tempat area perburuan. Prilaku pemburu juga berbeda-beda bahkan berburu burung dengan gaya bak ‘film action’. Seperti pada gambar di atas, pemburu sedang memburu burung air migran. Pada saat tertangkap kamera, mereka sedang menembak sekelompok burung jenis 
Gajahan Besar (Numenius arquata), dan  Gajahan Timur (Numenius madagarcariensis) serta jenis Kokoan Laut dan Kuntul yang juga berada ditempat tersebut. Padahal di Indonesia semua jenis burung Gajahan dan kuntul dilindungi. Tapi sayang, status burung dilndungi cenderung banyak diketahui oleh praktisi bukan masyarakat luas. Fenomena seperti ini juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

 telur1.jpg

Gambar 2. Masyarakat sedang mengambil telur burung (foto : Agus Nurza)

 Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat, sebelum tsunami masyarakat setempat sering memanen telur burung pada waktu musim burung bertelur (Gambar 2.). Jumlah telur diambil dari sangkar kadang mencapai satu karung ukuran besar bahkan lebih. Pengambilan telur seperti itu jelas akan berpengaruh pada kelangsungan hidup mereka. Selain itu proses perburuan dengan menggunakan senjata seperti senapan angin kerap dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal inilah yang perlu diwaspadai karena berbagaii jenis burung atau telur yang diambil dapat saja berstatus dilindungi dan mungkin beberapa diantaranya terancam punah.

Burung merupakan satwa yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kelestarian burung di alam merupakan salah satu kunci kelestarian alam. Dengan menjaga lingkungan, tentu saja melestarikan alam yang juga sebagai sumber daya alam yang baik sebagai tempat bergantung hidup bagi penduduk setempat yang berprofesi sebagai petani ikan dan nelayan.

Pengembara ibarat tamu, seharusnya kita dapat menjamu mereka dengan baik dan ramah. Setidaknya tidak mengusik keberadaannya atau merusak habitat alaminya. Walaupun ia adalah burung, tetapi jika kehidupannya terganggu tentu akan menyebabkan ancaman akan keberadaannya lalu skenario terburuk adalah terjadinya kepunahan. Bukankah putusnya satu mata rantai kehidupan akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri?. Hal seperti inilah yang seharusnya perlu kita renungkan dan kita resapi, bukan semata untuk kehidupan kita saat ini tetapi juga sebagai warisan kepada anak cucu kita kelak.

 


JULANG EMAS DI PULOT

24 Januari 2008

Oleh : Husnu Rijal

(Cicem Nanggroe)

dsc09615.jpg

Pagi yang mendung, terasa berat hendak melangkah, namun mengingat ekspedisi burung kami mencoba meringankan langkah kaki menuju kesuatu daerah yang pernah dikhabarkan adanya burung yang unik dan langka yaitu Desa Pulot Kec. Leupueng. Aceh Besar.

Pulot adalah salah satu desa yang terletak di pinggiran laut dan juga di pinggiran perbukitan. Perbukitan yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan pohon-pohon besar. Pasca tsunami hutan yang menjadi ekosistem bagi berbagai jenis fauna khususnya Avifauna menjadi rusak, KENAPA? Bukan karena diterjang oleh gelombang tsunami yang dahsyat, akan tetapi hutan di pulot hancur akibat pembuatan jalan baru dan perkampungan baru. Salah satu jenis Avifauna yang berada di sekitar ekosistem Desa Pulot adalah julang emas (Aceros undulatus).

Dari pengamatan yang dilakukan pada tanggal 11 November 2007 di Desa Pulot hanya terlihat 1 ekor burung julang emas (A. undulatus) yang sedang istirahat dan kemudian terbang di sekitaran perbukitan desa setempat.

Julang emas (A. undulatus) (Ing: Wreathed Hornbill) merupakan salah satu jenis burung rangkong yang hidup di Nanggroe Aceh Darussalam, selain rangkong badak (Buceros rhinoceros) dan rangkong papan (Buceros bicornis). Julang emas mempunyai ukuran tubuh yang besar (100 cm), ekor berwarna putih. Bagian punggung, sayap dan perut berwarna hitam, kaki tegap dan kuat berwarna hitam. Jantan; kepala berwarna krem, bulu halus berwarna kemerahan atau merah bata pada tengkuk, kantung leher kuning tidak berbulu dan membentuk gelambir dengan strip hitam yang khas. Betina; kepala berwarna krem bulu halus berwarna hitam terbentuk dari tengkuk, kantung leher biru tidak berbulu. Umumnya burung jantan memiliki ukuran tubuh lebih besar dari burung betina. Jenis kelamin Rangkong yang telah dewasa dapat diketahui berdasarkan perbedaan warna balung atau cula, warna sayap, paruh dan mata. Sering mengeluarkan suara “ku-guk” diulang-ulang, pendek dan parau. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras. Kelompok burung Rangkong (Bucerotidae) merupakan salah satu jenis burung yang bersifat arboreal.

Burung Rangkong termasuk hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang dipertegas dengan SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa yang dilindungi UU dan No. 882/Kpts-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang dilindungi UU.

Burung rangkong merupakan pemakan segala (omnivora), beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis rangkong ini juga sebagai pemakan buah (frugivora) dan sangat menggemari buah Ara (Ficus sp.). Kelompok burung Rangkong (Bucerotidae) yang tergolong satwa pemakan buah, berperan dalam penyebaran biji di hutan. Biji-biji tersebar melalui kotorannya karena sistem pencernaan Rangkong tidak merusak biji buah. Selain itu, pergerakan Rangkong keluar dari pohon penghasil buah membantu menyebarkan biji dan meregenerasi hutan secara alamiah. Menurut warga setempat, burung julang emas (A. undulatus) atau yang lebih dikenal dengan enggang/rangkong (cicem keureunda-Aceh, red.), sering terbang di sekitar wilayah Pulot bahkan sering hinggap di salah satu pohon di dekat desa tersebut, pohon dengan nama daerahnya yaitu bak geundreut merupakan pohon yang besar dan bertajuk tinggi. Pohon tersebut mendominasi sebagai pohon yang bertajuk tinggi (arboreal) di perbukitan Desa Pulot dan sangat berpotensi bagi burung julang emas sebagai tempat istirahat dan mencari makan. Rangkong istirahat dalam banyak kelompok yang terbagi dalam beberapa rusting tree. Dengan berkelompok, rangkong juga merasa aman dan nyaman untuk istirahat. Bila ada satu individu yang merasa terancam maka dia akan mengeluarkan alarm call (tanda bahaya). Dan ramai-ramai pula kelompok itu membubarkan diri. Keberadaan julang emas (A. undulatus) di kawasan Desa Pulot telah menambah kekayaan alam hayati khususnya dari kelompok Avifauna, apalagi jenis ini merupakan salah satu jenis rangkong yang dilindungi karena jumlahnya yang sudah sangat sedikit (status: Least Concern/LC).


Dara Laut Sahabat Petani di Beureunuen

23 Januari 2008

 

 T. Mohd. Sanir dan Husnu Rizal

(Cicem Nanggroe)

 

Hamparan sawah yang luas di pedesaan dengan suasana yang sejuk nan asri. Aktifitas petani pun dimulai saat matahari terbit. Saat itu di areal persawahan Kecamatan Mutiara, Beureunun Kabupaten Pidie Nanggroe Aceh Darussalam sudah memasuki musim labuh. Sebagian areal sawah sudah ditumbuhi benih padi dan sebagian lagi sedang dibajak oleh petani setempat. Konon kebiasaannya sebelum musim labuh tiba, beberapa desa melaksanakan suatu tradisi berupa kenduri blang. Kenduri ini adalah suatu adat Aceh berupa makan bersama dengan harapan hasil panen petani nantinya berlimpah dan juga tersirat bentuk silaturahmi masyarakat didalam suatu desa.

Di areal sawah yang sedang ditanami padi terlihat beberapa pria dan wanita yang sedang bekerja penuh semangat. Puluhan burung kuntul tampak sedang mencari makan disekitarnya. Seperti yang telah di ketahui sejak dahulu burung ini sangat dekat dengan petani sawah, layaknya bagaikan sahabat. Para petani tidak pernah merasa terganggu karena kuntul memangsa hama padi seperti wereng dan belalang. Jenis Kuntul Kerbau (Bulbulcus ibis) adalah burung yang umum dijumpai didaerah ini. Beberapa kuntul kecil (Egretta garzeta) dan kuntul besar (Egretta alba) juga terlihat dan sesekali melintas Burung Cangak Abu (Ardea cinerea). Habitat alami burung kuntul adalah daerah lahan basah seperti sawah dan rawa-rawa.

Tak lama mesin traktor pun dihidupkan dan mulai berjalan pada petak sawah yang belum dibajak. Dari kejauhan terlihat sekumpulan burung dengan warna putih mencolok berterbangan dan mulai mendekati petani yang sedang membajak. Semula dugaannya adalah kuntul-kuntul yang terbang mendekati petani. Teropong/Binocular segera kami arahkan kesasaran bak membidik target. Kami tertegun melihat ramainya kawanan burung tersebut. Keterkejutan kami bertambah sebab yang tampak dari kejauhan burung tersebut tidak memiliki kemiripan dengan burung kuntul baik dari ukuran dan gaya terbangnya walaupun warna nya hampir sama. Bergegas kami melangkahkan kaki mendekati petani yang sedang membajak sawah. Ternyata ini bukan burung Kuntul melainkan jenis burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica).

 daralaecil.jpg

Gambar 1. Petani yang sedang membajak sawah dan burung Dara Laut Tiram (foto : Agus Nurza)

 Burung ini terbang sangat dekat dengan petani dan berputar-putar disekitarnya. Jumlah yang terhitung lebih dari 50 ekor burung Dara Laut Tiram yang terbang berkerumun didekatnya. Mereka terbang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap dan menukik cepat kepermukaan lumpur untuk menerkam makanan. Burung ini jarang menceburkan diri kedalam air. “Kuwk-wik/kik-hik-hik” begitu suaranya riuh sehingga suasana di areal persawahan bertambah semarak, bagai nuansa laut hadir di sini, di tengah-tengah areal persawahan.

Berdasarkan pada buku panduan Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (Mc Kinnon dkk.) burung Laut yang anggun ini tergolong dalam suku Sternidae yang tersebar di seluruh dunia. Melewati Indonesia sebagai burung migran dan berbiak di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Mungkin saja dinegeri asalnya sana tengah mengalami musim dingin hingga mereka mesti jauh-jauh kemari dan melakukan migrasi untuk melangsungkan hidupnya.

Suasana ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan daerah areal persawahan pada umumnya dimana yang mungkin akrab dengan petani hanyalah jenis burung kuntul. Tetapi di Beureunun ini terdapat tambahan jenis lain yakni Dara Laut Tiram (Sterna nilotica) yang termasuk dalam kategori burung migran dan burung ini termasuk pengunjung didaerah pantai, laguna, dan perairan yang jauh di pedalaman. Dari penuturan masyarakat setempat, burung Dara Laut telah mengunjungi areal persawahan mereka sejak beberapa tahun silam. Mereka sering mengintai makanan saat sawah sedang dicangkul atau dibajak. Tetapi setelah padi ditanam pada seluruh areal sawah burung ini pergi entah kemana dan yang tinggal hanya beberapa burung Kuntul.

Kemudian kami menelusuri seluruh areal persawahan Kecamatan Mutiara dengan berjalan kaki di pematang sawah dan terkadang harus menginjakkan yang kaki kedalam sawah. Meskipun matahari panas menyengat dan baju basah oleh cucuran keringat, tetapi kami tetap semangat menyusuri tiap areal persawahan yang di ramaikan oleh burung ini. Burung Dara Laut Tiram juga terlihat disekitar petani yang sedang mencangkul sawah dan traktor. Ternyata di desa Tiba-Jojo, Cot uri, Geulumpang, Geumpueng, dan Paloh Usi juga dikunjungi oleh burung Dara Laut Tiram (Sterna nilotica). Terhitung lebih dari 700 ekor burung Dara Laut berada di seluruh desa tersebut. Terkadang burung ini berputar bersama dalam jumlah besar mengelilingi sawah bagaikan burung Pemangsa (Raptor) migran.

traktor2.jpg

Gambar 2. Dara Laut Kecil dan Dara Laut Tiram  sedang beristirahat (foto : Agus Nurza)

 Sekelompok Dara Laut Tiram dan Dara Laut Kecil berkisar lebih dari 80 ekor juga tampak sedang beristirahat pada petak sawah yang berair bersih. Bahkan beberapa ekor tampak asik membasahi dan membersihkan bulunya yang anggun. Sawah tersebut tampak belum dikerjakan seperti sawah-sawah lain yang sedang ditanami padi atau dibajak. Selain Dara Laut Tiram, di desa Geumpueng juga teramati 30 ekor burung jenis Cerek-cerekan (Charadrius spp.) yang juga diketahui merupakan salah satu jenis burung air migran. Saat teramati burung-burung ini sedang beristirahat dan lainnya mencari makan di areal sawah yang berlumpur.

Akhirnya, hari pun menjelang sore dan anak-anak terlihat mulai membantu orang tuanya di sawah. Usai membantu orang tua, belasan anak-anak ini menghampiri kami. Kegembiraan pun terpancar saat mereka menyapa dan bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Akhirnya mereka mengamati burung-burung bersama dengan menggunakan teropong.

  anak.jpg

Gambar 3. Beberapa anak sedang mengamati burung di sawah (foto : Agus Nurza)

Mengamati burung benar-benar kegiatan yang mengasikkan dan dapat menghilangkan stres ditambah lagi dengan suasana pedesaan yang jauh dari bising, sesak dan pengap oleh polusi udara, suasana hening, tenang akan membuat tubuh, jiwa dan pikiran kembali jernih dan fresh. Suara kicauan burung aneka rupa, gemericik air selokan yang mengalir di pinggir sawah, desir angin berhembus lembut serta sambutan hangat oleh masyarakat dengan penuh kekeluargaan. Semua ini dapat ditemukan di desa salah satunya di kecamatan Mutiara Beuruenun ini yang juga merupakan salah satu tempat persinggahan burung migran.